Jumat, 14 April 2017

Fiqh Tanzil oleh Ustadz Musyaffa Ahmad Rahim, Lc


Tidak mudah untuk mengeluarkan fatwa, bayan dan qararat. Waqi' bisa sederhana dan komplek. Ketika komplek dihadapkan pada cermin fiqhun nushush dan fiqhul maqashid maka perlu kombinasi antara berbagai fiqh lain dan diakhiri dengan fiqh tanzil. 

Masalahnya adalah masalah baru; kita mau menerapkan dari hukum yang sudah ada. 

Imam Syatibi - ijtihad yang tidak pernah berhenti yaitu penelitian keterkaitan hukum (ijtihad tahqiqul manat). 

Dalam nikah diharuskan adanya saksi. Saksi itu harus adil. Apakah sosok saksi adil sehingga layak menjadi saksi. perlu dilakukan "tahqiqul manat". 

Fikih Aulawiyat oleh Ustadz Musyaffa Ahmad Rahim, Lc



Sebagian fikih muwazanat sudah ada dalam fikih muwazanat, yang belum ada adalah nominasi. 

Al-Ghazali berkata: Ketidakmampuan kita untuk membuat nominasi adalah bagian dari keburukan / kejahatan. 
  • Iman itu ada 70 cabang
  • Hijrah ada nominasi (meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah dan Rasulnya)
  • Shalat diawal waktu lebih utama
  • Shalat berjama'ah lebih utama
Memprioritaskan ilmu (faham) dari amal (praktik):
  • Substansi, maksudnya, memastikan faham dan tahu ihwal aktivitas program dan kegiatan yang akan dilakukan
  • Contoh:
    • paham ilmu menikah sebelum menikah
    • penentuan awal Ramadhan antara metode hisab dan ru'yah
  • Rujukan
Rasulullah ketika akan Perang Badr betul-betul mempersiapkan perencanaannya. Kita sering menyederhanakan dengan mengatakan "jika kamu menolong agama Allah, maka Allah akan menolongmu" tanpa adanya ikhtiar yang maksimal. 

Memprioritaskan pendapat yang mudah dari pada pendapat yang sulit.
Memprioritaskan aktivitas yang berkelanjutan dari pada aktivitas yang temporal. 

Fiqh Muwazanah oleh Ustadz Musyaffa Ahmad Rahim, Lc



Pengertian Muwazanah: menakar dan membandingkan bobot

Tugas fiqh muwazanah:
  1. Mencari selisih
  2. Mengambil keputusan dari selisih tersebut
Fiqh Muwazanat adalah ungkapan tentang pemahaman seorang da'i dalam mengukur perimbangan antara hukum syar'i dan realitas / waqi' di bidang pendidikan, tabligh dan da'wah dengan syarat-syarat khusus. 

Gampangnya Fikih Muwazah adalah menimbang.

Pengertian:
  1. Menimbang antara satu kemaslahatan dengan kemaslahatan lainnya.
  2. Menimbang antara satu mafsadah dengan mafsadah lainnya
  3. Menimbang antara kemaslahatan dengan mafsadah
Dalil muwazanah
  1. Al-Qur'an - 
    1. Muwazanah antara "kapal tetap bagus" tetapi akan dirampas raja x "kapal dibikin cacat" tetapi tidak dirampas raja. (Q.S. Al Kahfi, 18: 79-82) 
    2. Muwazanah antara "anak tetap hidup" tetapi akan menjadi thaghut dan kafir x "anak dibunuh saja" biar nggak menjadi thaghut dan kafir
    3. Muwazanah antara "membiarkan dinding tanpa perbaikan" tetapi akan ambruk yang mengungkap rahasia harta dibawahnya x "diperbaiki sementara" biar nggak ambruk dan rahasia harta tetap terjaga
    4. Kisah Harun yang mempertahankan persatuan meskipun berhadapan dengan kemusyrikan yang besar
  2. As-Sunnah
    1. Ketika Rasulullah menang dalam Fathu Mekah, di Ka'bah dan sekitarnya banyak patung. Dibersihkan oleh Rasulullah SAW. Di dalam Ka'bah ada gambar Nabi Ibrahim. Dibersihkan. Bentuk ka'bah tidak persegi. Dibuat persegi karena kekurangan dana. Dibiarkan. Pintunya tidak setinggi tanah. Dibiarkan. Dibiarkan karena khawatir protes dan beresiko mereka akan murtad. (H.R Bukhari)
    2. Seorang a'robi kencing di masjid. Para sahabat bermaksud mengingkari orang yang kencing di masjid. Tapi kemudian dibiarkan. Bekas kencing disiram air. (H.R. Bukhari)
    3. Gerakan munafik tahun 3 H berhasil membuat 300 orang tidak ikut perang (30%). Saat Abdullah bin Ubay bin Salul tidak ada yang menyolatkannya. Selama berhadapan dengan munafik, beliau tidak pernah membunuh mereka. Pertimbangan beliau: khawatir kalau orang lain berpandangan bahwa Rasulullah membunuh sahabatnya. 
  3. Ijma'
    1. Al-'Iz bin Abdussalam: para pembesar dijual di pasar dan dibeli oleh sultan untuk dibebaskan. Jika ada dua mafsadat kontradiksi maka tidak apa-apa memilih yang mafsadatnya lebih ringan. 
  4. Akal
    1. Saat belanja ke pasar, kita pasti akan menimbang apa yang akan dibeli. 
Wejangan DR. Yusuf Al-Qaradhawi

Akibat sirnanya Fikih Muwazanah
  1. Menutup pintu-pintu keluwesan dan kasih sayang dari Islam
  2. Menjadikan filosofi "tolak" sebagai dasar bagi setiap tindakan dan interaksi
  3. Paling gampang berfatwa: "tidak" atau "haram" untuk semua urusan yang memerlukan kerja dan ijtihad
Syarat Mujtahid Muwazanah
  1. Menekuni Maqashid Syari'ah
  2. Menekuni dan mendalami kaidah-kaidah serta tingkatan-tingkatan kemaslahatan
  3. Menekuni dan konsen dengan bidang yang ia akan menerapkan fiqih muwazanah di dalamnya (politik, ekonomi, pendidikan, dakwah, tarbiyah, dll)
  4. Menekuni dan mendalami waqi'
Marahil muwazanah
  1. Memastikan bahwa maslahat yang akan diraihnya benar-benar maslahat dan bukan ilusi maslahat.
  2. Sebisa mungkin meraih dan menggabungkan berbagai maslahat.
  3. Mencari tingkat selisih dan perbedaan tingkat antara maslahat
  4. Cara lain
    1. Konsultasi
    2. Istikharah (meminta pilihan terbaik)
    3. Melakukan teknik undian / pemungutan suara
    4. Menjatuhkan pilihan (feeling)
Kaidah-kaidah terkait fiqih muwazanah
  • kalau ada maslahat satu dan lain kontradiksi maka kita pilih yang mu'tabaroh
  • menurut akal manusia itu baik, tapi menurut agama itu tidak baik
  • maslahat yang kita yakini didahulukan dari maslahat yang baru dikenal
  • maslahat besar didahulukan dari maslahat kecil
  • maslahat publik didahulukan dari maslahat orang per orang
  • maslahat permanen didahulukan dari maslahat yang temporer
Mafsadat dan mafsadat
  • pilih resiko ringan
  • maslahat besar ada resiko kecil - ambil maslahat
  • kalau tidak tahu kadarnya, maka pakai kaidah "menolak mafsada dikedepankan atas melakukan maslahat"

Fiqh Maqoshid Syariah oleh Ustadz Musyaffa Ahmad Rahim, Lc


Maqasid Syariah - maksud syariah. 

Hasan Al Banna dalam Ushul Isyrin menyatakan bahwa dalam urusan ibadah khusus kita tidak menanyakan masalah hikmah, maksud dari perintah tersebut. 

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (Q.S. An-Nur, 24: 55)

2: 183 - rahasia puasa agar bertakwa

17: 22-39 - ayatul hikam (ayat-ayat hikmah). Di ayat 39:
Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah).

Allah menyebutkan ayat-ayat tersebut sebagai hikmah. 

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (Q.S. Al Isra, 17: 29)

Rahasianya agar tidak tercela dan menyesal. 

Rupanya tren ayat dan hadits selalu mengaitkan dengan rahasia-rahasia. Dari situlah muncul ilmu maqasid syariah. 

Kalau setiap aturan memuat aturan yang ada disebaliknya, boleh nggak kita menggunakan maksud itu untuk memecahkan masalah-masalah baru yang tidak ada ayat dan haditsnya. Ini bagian dari ilmu maqasid syariah. Ini adalah ilmu alat untuk menjawab tantangan zaman dimana kita tidak menemukan teks ayat dan hadits secara langsung. Boleh nggak dengan maqasid syariah kita memecahkan masalah baru meskipun bertentangan dengan spirit ayat dan hadits (ini tidak boleh). 

Seluruh syariat Allah dimaksudkan untuk mewujudkan 5 hal ini:
  1. Menjaga agama
  2. Menjaga nyawa
  3. Menjaga akal
  4. Menjaga kesucian keturunan
  5. Menjaga harta
Kalau kita memiliki kekuasaan, maka kita menegakkan kelima hal diatas. Potong tangan dan rajam sangat bersifat teknis. 

( 1 )   Karena kebiasaan orang-orang Quraisy,
( 2 )   (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.
( 3 )   Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah).
( 4 )   Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. (Q.S. Quraisy, 106: 1-4)

Tidak boleh ada orang yang tidak mau beragama karena lapar dan terancam. Kalau orang tidak terancam lapar, tidak ada halangan untuk beragama. Prestasi Nabi Yusuf adalah membuat orang mudah dalam beragama. 

Perang itu berguna untuk membuat tidak ada fitnah (ujian, godaan, tekanan), agar diin hanya untuk Allah semata. 

Imam Ghazali: tujuan syari'at terhadap makhluk ada 5: melindungi mereka dalam hal agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Semua perkara yang mencakup terpeliharanya ke-5 pokok tersebut maka dia disebut maslahah dan semua perkara yang menyebabkan hilangnya pokok-pokok tersebut maka disebut mafsadat, dan menolaknya adalah maslahah. Kitab Al-Mustashfa: jilid 1/287

Jadi inti syariat Islam adalah mendatangkan maslahat dan membuang mafsadat. 

Teori diperlukan untuk duplikasi. Zaman Rasulullah dan para sahabat, maqasid syariah itu sudah hidup dalam diri mereka. 

Setelah perang Riddah, Umar lapor pada Abu Bakar: satu kali perang 70 penghapal Qur'an gugur sebagai syuhada. Umar meminta agar Abu Bakar mencetak Qur'an dalam media kertas. Abu Bakar mempertanyakan sesuatu yang tidak diajarkan oleh Rasulullah. Umar: ide saya ini demi Allah baik. Zaid bin Tsabit juga mempertanyakan sesuatu yang tidak diajarkan Rasulullah. Abu Bakar menjawab: Haza wallahi khair. 

Imam Aamidi: bahwa maksud dari syariah, apakah mendatangkan maslahat atau menolak madhorot atau kedua-duanya sekaligus. Al Hikam: jilid 3/271

6.236 jumlah ayat Qur'an. Qur'annya sama. Cara menghitung ayatnya yang berbeda. 

Abu Dawud - hadits yang ratusan ribu itu kalau mau disimpulkan intinya 3 atau 4 hadits saja:
  1. sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya
  2. siapa saja yang mengadakan sesuatu yang baru, tertolak
  3. baiknya keislaman seseorang dia meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya
  4. halal itu jelas, haram itu jelas diantaranya ada syubhat. 
Ibnu Sholah mengumpulkan 20 hadits yang kandungannya mencakup berbagai masalah agama. Imam Nawawi mengumpulkan sampai 40 hadits. 

Kesimpulan Imam Aamidi digunakan untuk memecahkan masalah yang tidak ada ayat dan haditsnya. 

Utsman bin Affan ra. menentang hadits?

Makna Hadits: Rasulullah SAW ketika ditanya tentang unta yang tersesat, tidak diketahui siapa pemiliknya. Beliau menjawab: biarkan, (jangan diambil) ... sampai ditemukan oleh pemiliknya. Unta punya kaki yang tahan panas; punya cadangan air; tahu keberadaan air; daun berduri pun dimakan olehnya. Unta itu hapalannya bagus, punya kerinduan pada tuannya, pulang sendiri. Zaman itu tidak ada orang yang jahil. 

Dizaman Utsman ra, unta yang tersesat ditangkap dan dikurung. Apakah Utsman bin Affan menentang hadits? Utsman berijtihad dengan mempertimbangkan maqoshid. Di zaman Utsman ra. berijtihad karena dizaman itu sudah ada orang yang mencuri unta yang tersesat.

Di zaman Utsman beliau berijtihad agar ada adzan di pasar. Setelah mereka ke mesjid baru adzan lagi. Utsman mensiasati keadaan. 

Berijtihad dengan mempertimbangkan maqoshid terkesan bertentangan dengan al-Qur'an dan Sunnah. Padahal hal tersebut adalah memahami syariat lebih luas dan lebih dalam. Contoh: menolong orang yang mau tenggelam dengan shalat Jum'at. 

Definisi Maqashid Syariah:
Makna yang dapat dicerna dari hukum-hukum syar'i yang bersifat syar'i yang menjadi pijakan hukum itu, baik nilai itu bersifat hikmah yang parsial atau kemaslahatan yang bersifat umum (kolektif) atau bahkan hanya tanda-tanda global saja. Yang semuanya itu terhimpun dalam satu tujuan yang bernama penghambaan kepada Allah dan kemaslahatan manusia dunia dan akhirat. 

Maqashid itu tidak tampak kasat mata. Ini penting dalam bab zakat. Secara literalis orang punya kebun sawit tidak bayar zakat karena tidak ada dalilnya, sehingga menimbulkan ketimpangan dalam praktek. Kebun karet, buah naga, tidak ada dalil zakatnya. Lalu dimana keadilannya. Pertarungan literalis dengan maqashid syariah. 

Tiga sisi dari maqoshid
  1. Hikmah: 
    1. Hikmah shalat adalah mencegah perbuatan keji (fakhsya - zina dan seluruh muqaddimahnya) dan mungkar. Kalau keji dan mungkar tidak berhenti maka perlu perbaikan shalatnya. Hikmah lain adalah zikir kepada Allah. 
    2. Dengan menikah seseorang itu lebih mampu menundukkan pandangan dan menghindari zina
    3. Sedekah itu tidak mengurangi harta. Harta tidak berkurang karena sedekah. Kalau harta ingin terjaga sedekahlah. 
  2. Maslahat Umum
    1. Dhoruriyyaat (primer): kalau tidak terpenuhi, konsekuensinya binasa. Kalau darurat diumpamakan makan, maka darurat adalah pada satu dua suap.
      1. agama - rem paling baik
      2. jiwa
      3. akal
      4. keturunan - siapa anaknya siapa
      5. harta
    2. Haajiyat (kebutuhan): kalau tidak dipenuhi, tidak akan binasa tapi akan mengalami kesulitan besar.
    3. Tahsinaat (pelengkap): kalau tidak dipenuhi, tidak binasa dan tidak mengalami kesulitan tapi selera berkurang. 
  3. Karakter global
    1. mencegah keberatan - kalau tidak ada air, boleh tayammum;
    2. menghilangkan kesulitan
    3. mencegah bahaya
    4. agama itu mudah
Kadang-kadang kita tidak tahu rahasia sesuatu kecuali setelah tahu hikmahnya. 

Memelihara agama
  1. Darurat
    1. memelihara dan melaksanakan kewajiban keagamaan yang termasuk tingat darurat
    2. shalat lima waktu
    3. jika kewajiban ini diabaikan maka eksistensi agama akan terancam
  2. Haajiyat
    1. melaksanakan ketentuan agama dengan maksud menghindarkan dari kesulitan
    2. shalat jamak dan qasar bagi orang yang sedang bepergian
    3. tidak akan mengancam eksistensi agama
  3. Tahsinat
Maksud asli dari hukum adalah mewujudkan maslahat hamba

maslahat :
  • mengambil manfaat
  • mencegah bahaya
Ibnul Qayim, prinsip dasar kesehatan:
  • makan
  • minum
  • jangan berlebihan
Bekam itu, prinsipnya adalah membuang kelebihan. 

  • Yang dimaksud mashlahah bukan sesuatu yang dipandang manfaat dan mashlahat sesuai hawa nafsu. 
  • Akan tetapi sesuatu yang dinilai mashlahat dalam pertimbangan syariat, bukan menurut pertimbangan hawa nafsu dan syahwat
  • Kadang manusia menilai sesuatu bermanfaat padahal bahaya, atau sebaliknya, memandang sesuatu berbahaya padahal bermanfaat. 
Jika ada pertentangan antara syariat dan akal, didahulukan pandangan syariat. Akal baru bisa dipakai sebagai rujukan manfaat dan mudhorot jika tidak ada pandangan syariat. 

Maslahat mursalah - menurut akal bermanfaat, syariat membiarkan. Biasanya kemaslahatannya tidak mutlak. Demokrasi adalah model terbaik dalam proses suksesi. Kapitalis memanjakan insting memiliki. 

Ekonomi Islam, konsep dan teorinya belum selesai. 

Hukum adalah media untuk mewujudkan maslahat.

Maslahat
  • Manfaat / kebaikan --> perintah
  • Mafsadah / keburukan --> larangan

Fiqih Tawaqqu' oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc


Kasus 1
Seorang Muslimah di Syria diperkosa oleh anggota ISIS dan hamil 3 bulan. Muslimah tersebut sangat stress, selalu menutup diri dan menghindar dari ketemu siapapun. Semakin hari semakin tambah stress. 

Mendasarkan hukum / keputusan pada yang akan terjadi, baik merubah hukum boleh menjadi tidak boleh ataupun sebaliknya. 

Tawaqqu' (prediksi) sebagai landasan untuk mengambil keputusan --> Fiqih Tawaqqu' (Fiqih Prediksi).

Kasus 2
Sejak pertama kali ikut pemilu hingga tahun 2014 PKS selalu berada dalam kabinet kecuali masa Megawati jadi Presiden selama 3 tahun. 
PKS pada pemilu presiden 2014 memilih mendukung Prabowo-Hatta dan tidak mendukung Jokowi-JK meskipun dalam survei lebih unggul dan lebih mendapatkan dukungan dari dalam dan luar negeri. 

Bila saat ini adalah tahun 2014 dan pilpres baru pada tahapan awal, apa yang harus dilakukan partai terkait pilihan dan kondisi diatas. 

menetapkan suatu hukum / kebijakan berdasarkan akibat yang akan terjadi atas suatu peristiwa sesuai atau tidak sesuai dengan maqasid syariah. 

Fiqh Nushush oleh Ustadz Amanto Surya Langka, Lc


Tujuan Khusus:
  1. Memahami makna fikih secara bahasa dan istilah
  2. Memahami arti nushush secara bahasa dan istilah
  3. Memahami kekhususan nushush
  4. Memahami dhawabith dan kaidah dalam memahami nash
  5. Memahami arti kalimat dan khusus
Hadits:
Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkannya untuk meraih surga. 

Fiqh Nushush ini paling penting. Nushush adalah jamak dari nash. 

Tujuan Khusus
  1. Kader mampu memahami makna muthlaq dan muqayyad serta yang berkaitan dengan keduanya.
  2. Kader mampu memahami makna mujmal dan mubayyan serta yang berkaitan dengan keduanya
  3. Kader mampu memahami makna "manthuq" dan "mafhum" serta yang berkaitan dengan keduanya.
Konten
  1. Memahami makna fiqh nash
  2. Memahami urgensi dan khosoish nash
  3. Posisi nash dalam syariat Islam
  4. Qowaid dan dowabi
  5. Dalalah lafadz
Mengenal Fiqh

Secara bahasa: 
  • Pemahaman mutlak
  • Memahami tujan pembicara tentang perkataannya. Seperti do'a Musa agar dilapangkan dadanya dan dimudahkan urusannya. Mudahnya urusan dari kelapangan dada. Dimudahkan komunikasi, dimudahkan pendengar untuk mengerti pembicaraan.
  • Memahami sesuatu secara mendalam dan detail
Secara istilah:
Mengetahui hukum syara' yang berkaitan dengan praktek yang diambil dari dalil-dalilnya yang terperinci.

Hukum syara' ada wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah. 

Mengenal nushush

Secara bahasa: terangkatnya sesuatu. Segala sesuatu yang tampak, itu adalah nash. 
Secara istilah: Perkataan Allah (langsung: al-Qur'an, tidak langsung: as-Sunnah). 

Ungkapan yang memiliki makna satu, tidak lagi menerima takwil. 

Definisi Nushush menurut ahli ushul
  • Nash adalah setiap lafadz yang dipahami artinya dari Al-Qur'an dan As-Sunnah secara lahir atau teks yang ditafsirkan, secara hakikat atau kiasan, secara umum atau khusus. 
Yang dimaksud dengan pemahaman Fiqh Nushush secara gabungan adalah memahami nash-nash Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW. 

Karakteristik nushush syari'ah
  1. Sesungguhnya Allah akan menjamin terpeliharanya prinsip (nash) ini, sebagaimana firman-Nya: Kami yang menurunkan al-Qur'an, maka kami juga sebagai penjaganya. (Q.S. Yunus, 10: 9). Ibnu Qayim berpendapat: Allah SWT telah menjamin pemeliharaan atas apa yangt telah diwahyukan dan diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk tegaknya hujjah dengan al-Qur'an atas hamba sampai hari akhir nanti. 
  2. Prinsip ini adalah hujjah Allah yang diturunkan kepada ciptaan-Nya. Imam Syafi'i berpendapat: Sesungguhnya Allah Yang Maha Terpuji menegakkan hujjah kepada hamba-Nya dari prinsip di dalam kitab: al-Qur'an, setelah itu sunah Nabi-Nya. 
  3. Prinsip ini adalah metode penghalalan dan pengharaman serta metode memahami hukum Allah dan syari'at-Nya. Ibnu Taimiyah berpendapat: wajib beriman kepada-Nya dan terhadap apa yang diturunkan-Nya serta menta'atinya. Menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan Rasul-Nya. Mengharamkan terhadap apa yang diharamkan Allah dan Rasulul-Nya. 
  4. Sesungguhnya berseberangan dengan prinsip ini mencemarkan (tercela) keimanan. Ibnul Qayim berpendapat: Sesungguhnya pertentangan antara akal dan nash wahyu tidak akan muncul di kalangan muslim yang beriman terhadap kenabian. Juga tidak akan terjadi di kalangan ahli kalam yang membenarkan kenabian. 
  5. Prinsip ini mewajibkan menjauhi rayi dan membuangnya kalau ra'yi itu bertentangan dengan prinsip. Khathib al-Baghdadi mengkhususkan pembahasan dalam suatu bab dari Kitabnya yang berjudul al-Faqih al-Mutafaquh. Beliau berpendapat: Mengingat tentang diriwayatkan merujuknya (mengembalikan) pendapat sahabat Nabi kepada Hadits Nabi SAW ketika mereka mendengarnya. 
  6. Prinsip ini adalah pertama dan utama serta merupakan tolok ukur untuk mengetahui benarnya pendapat dari kelemahannya. Imam Syafi'i berpendapat: (prinsip ini) untuk menjadikan perkataan dan perbuatan setiap orang MENGIKUTI Kitab Allah dan Sunah Rasulullah. Ibnu Abdul Birr berpendapat: ketahuilah saudaraku, sesungguhnya Sunah dan al-Qur'an, keduanya merupakan asli (prinsip) dari ra'yi dan ukuran (menakar) nya, bukan sebaliknya, ra'yi mengukur (menakar) Sunah. 
  7. Kesepakatan kaum muslimin selamanya tidak akan bertemu di atas perbedaan dalam prinsip. Imam Syafi'i berpendapat: ... Atau kesepakatan ulama Islam yang tidak mungkin bergabung diatas khilaf sunnah. 
  8. Prinsip tidak akan bertentangan dengan akal, bahkan benarnya akal selamanya bersuaian dengan sahihnya nash (naql)
Cara menjadikan nash-nash sebagai dalil
  • Teks eksplisit
  • Teks implisit
  • Arti yang dipahami dari nash secara langsung yang menunjukkan hukum lain lebih kuat
  • Arti yang dipahami dari nash secara tidak langsung
Contoh bagaimana nash-nash berbicara: 

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh. Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya, janganlah seorang ibu menderita (Q.S. Al Baqarah, 2: 233)

dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya). Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki, yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (Q.S. An-Nisa, 4: 3)

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula), mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (Q.S. Al-Ahqah ayat 15)

Manthuq dan Mafhum

Manthuq: kata yang menunjukkan hukum yang tersurat dalam perkataan.
Mafhum: kata yang menunjukkan hukum yang tidak tersurat disebut dalam ucapan

Mafhum muwafaqah: kata yang menunjukkan ketetapan hukum yang tersurat untuk yang tersirat. 
Mafhum mukhalafah ada macam-macam:
  • Mafhum sifat
  • Mafhum syarat
  • Mafhum ghayah
  • Mafhum 'adad (terkait jumlah)
Prinsip-prinsip dalam berinteraksi dalam sunnah:
  1. Harus berpegang teguh kepada ketetapan dan keshahihan hadits sesuai dengan acuan/standar ilmiah yang secara detail telah dibuat oleh para ulama yang pakar di bidang ini yang mencakup sanad dan matan sekaligus. 
  2. Harus memahami hadits dengan baik sesuai dengan dalaalah (maksud) lughah (bahasa) dan bingkai kontekstualisasi afazh hadits dan sabab wurud (sebab-sebab diucapkannya) dalam naungan nash-nash Al Qur'an dan hadits yang lain, dalam lingkaran / bingkai prinsip-prinsip umum dan tujuan-tujuan yang menyeluruh.
  3. Harus yakin bahwa nash hadits tersebut tidak kontradiksi (berbenturan) dengan nash lain yang lebih kuat, baik dari Al Qur'an maupun hadits-hadits lain. 
Maklamat dan rambu-rambu memahami nushush:
  • Memahami arti yang dipahami dari nash
  • Menghimpun nash yang memiliki kesamaan tema
  • Menghimpun dan mentarjih nash yang bertentangan
  • Memahami nash dari sebab turunnya (wurud hadits), peristiwa yang melingkupinya dan maqashid dari nash
  • Memilah makna sebenarnya dan makna kiasan dalam memahami nash.