Selasa, 07 Agustus 2018

RINGKASAN BUKU “MENIKMATI DEMOKRASI” KARYA USTADZ ANIS MATTA, Lc.

Diunduh dari: pkspringsewu.wordpress.com 

     Asas PenyikapanSebuah keputusan syuro akan bisa dijalankan dengan baik oleh sebuah komunitas, maka syuro yang dilaksanakan haruslah sebuah syuro yang bermutu. Ada beberapa nilai yang menentukan mutu sikap dan keputusan da’wah, yaitu: 
  1. Sejauh mana keputusan itu tepat dengan situasi, tempat, momentum, orang dan institusinya. Tidak hanya benar, tapi benar yang tepat, karena benar dan tepat adalah substansi sebuah keputusan.
  2. Sejauh mana keputusan da’wah itu efektif dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai. Efektivitas sebagian terkait dengan kebenaran dan ketepatan, lainnya adalah pada pengekspresian. 
  3. Sejauh mana kita dapat mempertahankan konsistensi dalam penyikapan dan pengambilan keputusan. 
      Konsistensi yang menentukan warna dasar dari karakter kita secara kolektif: apakah itu berupa kebenaran atau kepentingan, idealisme atau pragmatisme. Ketiga hal di atas terkait dengan dua sisi yang selalu melekat pada sikap dan keputusan da’wah. 
• Sisi pertama adalah muatan kebenaran syar’i 
• Sisi kedua adalah cara yang kita tempuh (proses) 

Muatan dan Proses Muatan di sini adalah muatan kebenaran (syar’i) yang ditentukan oleh referensi, metode yang kita gunakan. Metode berupa ijtihad, tidak lain adalah dengan menggabungkan dua pengetahuan sekaligus, yaitu : 
• Fiqhi wahyu : pegetahuan tentang sariat Islam yang mendalam 
• Fiqhi realitas : pengetahuan yang mendalam dan mendetil tentang realitas kehidupan dakwah yang kita hadapi. 

       Yang dilakukan dalam ijtihad adalah bagaimana memberlakukan kebenaran-kebenaran wahyu Allah SWT dalam realitas kehidupan manusia. Secara substansi, ajaran syariat Islam berorientasi pada kebaikan dan kepentingan hidup manusia. Sebagaimana Ibnu Taimiyah: “…dimana ada kemashlahatan bagi manusia, di situ pasti terdapat syariat Allah SWT”.Dengan kata lain syariat Islam mengakomodasi segala hal yang menciptakan kemashlahatan sebanyak-banyaknya bagi manusia.Jadi asas penentuan sikap dan pengambilan keputusan adalah ‘asumsi‘ mashlahat yang terdapat dalam perkara itu. Asumsi bersifat relatif, sedangkan yang digunakan dalam sebuah ijtihad adalah asumsi yang kuat (zhonn rajih).Yang terkait dengan proses adalah lembaga pengambilan keputusan atau apa yang disebut ‘syuro’.Karena kemashlahatan itu didefinisikan melalui sejumlah asumsi dasar, dengan merujuk pada realitas, rasionalitas dan idealitas sudah tentu akal kolektif lebih baik dari akal individu. Karena itu keputusan bersama lebih baik daripada keputusan individu. 

Resiko Sebuah Keputusan 
Yang menjadi pertanyaan umum terkait dengan masalah syuro adalah apakah keputusan yang lahir dari syuro tidak mungkin salah?Prinsip ini (keunggulan akal kolektif atas akal individu) sering dipertentangkan dengan masalah pengendalian kolektif atas proses kreativitas individu. Adanya anggapan keputusan syuro selalu benar dapat menjadikan para pengambil keputusan abai terhadap antisipasi resiko. Hakikat yang perlu dipahami dalam syuro dan keputusannya adalah: 
  1. Para pengambil keputusan adalah manusia biasa, tidak makhsum. Yang dilakukan adalah ijtihad jama’i yang bersifat relatif, dalam arti ada resiko kesalahan; 
  2. Penentuan dan pendefinisian mashlahat ammah pada suatu masa dan situasi tertentu adalah ruang yang sangat dinamis terus berubah dan berkembang dalam tempo cepat. Bisa jadi mashlahat hari ini adalah mudhorot esok hari.
Antisipasi resiko
Produk syuro selalu mengandung resiko kesalahan atau setidaknya tempo kebenaran yang sangat pendek, dalam pendefinisian mashlahat ammah dan mudhorot yang bersifat asumtif.Kesalahan yang terjadi sebagai produk syuro, masih memberikan ruang perbaikan (perubahan keputusan) dan keuntungan dikarenakan 2 hal:
  1. Secara kolektif telah diambil prosedur pengambilan keputusan yang benar. Sehingga dapat dengan mudah ditemukan letak kesalahan2nya , yaitu pada asumsi yang mendasari keputusan atau perkembangan baru yang tidak terduga sama sekali. Jika keputusan itu berasal dari individu maka kesalahannya terletak pada prosedur dan muatan keputusan sekaligus. 
  2. Ijtihad jama’i lebih bisa ditanggung resikonya secara bersama-sama. Meskipun bisa jadi keputusan syuro mungkin berasal dari gagasan seorang individu anggota majelis syuro. 
      Distribusi beban tanggung jawab tersebar secara merata sehingga dapat memperkuat tingkat soliditas organisasi dan menjaga rasa saling percaya antara sesama anggota dan antara junud engan qiyadah (pimpinan). Ijtihad jama’i ini merupakan ruang yang sangat dinamis dan terus berubah.

Optimalisasi Sebuah Syuro 
Hal yang berkaitan dengan antisipasi resiko adalah bagaimana menghasilkan sebuah keputusan syuro yang bermutu. Ini bisa diartikan dengan bagaimana mengoptimalkan syuro. Secara umum ada 2 fungsi syuro: 
• fungsi psikologis dan 
• fungsi instrumental 

Fungsi psikologis terlaksana jika: 
  1. Ada jaminan kemerdekaan dan kebebasan yang penuh bagi setiap peserta syuro untuk mengekspresikan pikiran2nya secara wajar dan apa adanya. Jika ruang ekspresi tidak terwadahi dengan baik akan terjadi konflik yang kontra produktif dalam syuro. Peserta syuro harus mempunyai kelapangan dada untuk menerima keunikan-keunikan individu lainnya.
  2. Kemerdekaan dan kebebasan sebagai landasan menciptakan keterbukaan dan transparansi. Rasa aman dan bebas dari rasa takut, rasa nyaman karena diterima secara wajar, apa adanya akan menjadi suasana yang kondusif bagi terciptanya kreativitas dan keragaman yang produktif. 
       Fungsi syuro yang sesungguhnya adalah mewadahi keragaman sebagai sumber kreativitas dan keunggulan kolektif. Tapi yang menjamin terciptanya keseimbangan yang optimal antara kebebasan berekspresi dan penerimaan yang wajar apa adanya adalah kekhlasan pertanggujawaban dan kelapanagn dada setaiap peserta syuro.Fungsi instrumental sebuah syuro jika mekanisme pengambilan keputusan berjalan dengan baik maka organisasi itu akan punya soliditas dan resisitensi yang tinggi terhadap berbagai bentuk goncangan yang bisa mengakhiri organisasi. 

Fungsi instrumental ini hanya terlaksana apabila beberapa syarat terpenuhi: 
  1. Sumber informasi yang cukup untuk menjamain bahwa keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Fakta yang akurat disertai analisis yang tepat akan memudahkan kita menyusun rencana keputusan baik dengan pendekatan syariat maupun pendekatan da’wah. Informasi akurat berkorelasi positif dan kuat (signifikan) dengan keputusan yang tepat. Kaidah ushul fiqh menyatakan hukum yang kita berlakukan atas sesuatu merupakan bagian dari persepsi kita tentang suatu itu.
  2. Tingkat kedalaman ilmu pengetahuan yang relatif harus dimiliki setiap peserta syuro sangat menentukan mutu analisis pikiran dan gagasan yang dilontarkan. Faktor lain adalah dominasi akal atas emosi (rajahatul ‘aql) serta sikap rasional yang konsisten. Sikap itu menjamin sikap emosional dan temperamental yang sebagian besar kontraproduktif, tidak terjadi dalam syuro. 
  3. Adanya tradisi ilmiah dalam perbedaan pendapat yang menjamin keragaman pendapat yang terjadi dalam syuro-syuro terkelola dengan baik (seleksi, penyaringan dan integrasi ilmiah). Pikiran-pikiran baru yang sulit dibayangkan lahir dari seorang individu. Tradisi ilmiah mengharuskan kita menghilangkan sikap apriori, merasa benar sendiri, mudah mencurigai niat orang lain, meremehkan pendapat orang lain, berbicara tanpa dasar informasi dan ilmu pengetahuan, mengklaim gagasan orang sebagai gagasan sendiri, kasar dan tidak beradab dalam majelis, ngotot yang tidak proporsional, ngambek dan bersikap kekanak-kanakan, mudah menuduh dan memojokkan orang lain dst. 

Mengelola Ketidaksetujuan Terhadap Hasil Syuro
Pengalaman keikhlasan yang penting adalah tunduk dan patuh pada sesuatu yang kita tidak setujui dan taat dalam keadaan terpaksa. Dalam kaitan ini sangat relevan muncul pertanyaan, bagaimana mengelola ketidaksetujuan terhadap hasil syuro? Sebelum sampai kepada jawaban pertanyaan tersebut ada baiknya kita lakukan langkah-langkah berikut, sebagaimana dalam tulisan Anis matta. 

1. Bertanya pada diri sendiri, apakah pendapat kita telah terbentuk melalui suatu ‘upaya ilmiah’ seperti kajian, perenungan, pengalaman lapangan yang mendalam sehingga kita punya landasan kuat untuk mempertahankannya. Dalam kaitan ini harus dibedakan pendapat yang lahir dari proses sistematis dengan sekedar ‘lintasan pikiran’. Seyogyanya kita mengindari pendapat hanya untuk sekedar berbicara (asbun). Karena itu adalah kebiasaan buruk, akan tetapi ngotot adalah kebiasaan yang lebih buruk lagi.Jika memang pendapat kita telah lahir dari proses yang sistemastis maka tawadhu adalah sikap yang lebih utama. Pendapat kita memang benar, tapi mungkin salah. Dan pendapat mereka salah, tapi mungkin benar.

2. Apakah pendapat kita merupakan ‘kebenaran obyektif ‘atau ‘obsesi jiwa’ tertentu sehingga menjadi ngotot. Jika obsesi jiwa, maka tidak lain ini adalah salah satu bentuk hawa nafsu, maka segera bertobat karena ini adalah salah satu jebakan setan. Jika pendapat kita adalah kebenaran obyektif dan bukan berasal dari obsesi jiwa, yakinlah bahwa syuro pun membela hal yang sama. Sebagaimana salah satu sabda Rasululloh SAW: “ummatku tidak akan pernah bersepakat atas suatu kesesatan”.

3. Seandainya kita tetap percaya pendapat kita lebih benar dan pendapat umum yang menjadi keputusan syuro lebih lemah atau bahkan salah, hendaklah kita percaya “mempertahankan kesatuan dan keutuhan shaf jama’ah da’wah lebih utama dan penting dari sekedar memenangkan pendapat yang boleh jadi benar”. Karena berkah dan pertolongan hanya turun kepada jama’ah yang bersatu padu dan utuh. Seandainya pilihan syuro itu terbukti salah, dengan keutuhan shaff da’wah, Alloh SWT akan mengurangi dampak negatif dari kesalahan itu berupa misalnya:o Mengurangi tingkat resikonya atau mencipatakan kesadaran kolektif yang baru yang mungkin tidak akan pernah tercapai tanpa pengalaman salah seperti itu. o Mengubah jalan peristiwa kehidupan sehingga muncul situasi baru yang memungkinkan pilihan syuro itu ditinggalkan dengan cara logis.

4. dalam ketidaksetujuan itu kita belajar banyak makna imaniyah: makna keikhlasan yang tidak terbatas,makna tajarrud dari semua hawa nafsu, makna ukhuwah dan persatuan, makna tawadhu dan kerendahan hati § tentang menempatkan diri yang tepat dalam kehidupan berjamaah  § tentang cara kita memandang diri kita dan orang lain secara tepat,o makna tradisi ilmiah yang kokoh dan kelapanagan dada yang tidak terbatas , o makna keterbatasan ilmu kita di hadapan ilmu Alloh SWT yang tidak terbatas o makna tsiqoh kepada jama’ahJangan pernah merasa lebih besar dari jama’ah atau lebih cerdas dari kebanyakan orang. Yang perlu diperkokoh adalah tradisi ilmiah kita, dalam bentuk: 
• memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan yang mendalam 
• memperkuat daya tampung hati terhadap beban perbedaan, 
• memperkokoh kelapangan dada dan kerendahan hati. 
Semua ini akan menentukan apakah kita matang secara tarbawi atau tidak. 

Syubhat di Sekitar Sikap Kritis 
Sikap kritis diperlukan dalam jama’ah sebagai kontrol, pengendalian dan perbaikan yang berkesinambungan. Sikap kritis dan kultur introspeksi menjadi instrumen penting dalam proses penyempurnaan kehidupan berjamaah.Umar bin Khoththob mengucapkan terima kasih kepada siapapun yang menghadiahkan ‘aibnya’ kepadanya.Al Mutarabbi (penyair Arab) :’…orang yang sempurna adalah yang ‘aibnya dapat dihitung’….’Akan tetapi ada beberapa syubhat dari implementasi sikap kritis, terutama saat sikap kritis bertemu dengan suasana keterbukaan dan kebebasan menyampaikan pendapat. 

1. Apabila sikap kritis itu bersumber dari kebencian bukan dari semangat untuk saling memperbaiki. Benci menjadikan kita bersikap kritis bahkan sangat kritis, sedangkan cinta bisa menjadikan kita bersikap longgar. Rasululloh SAW selalu berdoa untuk diberi kemampuan untuk diberi kemampuan bersikap adil ketika sedang suka dan ketika sedang benci. 

2. Apabila sikap kritis itu lahir dari keinginan untuk berbeda dengan orang lain dan dijadikan sarana untuk memperjelas identitas diri sendiri. Karena sikap kritis adalah citra yang baik. 

3. Apabila sikap kritis ini dijadikan cara untuk mendapatkan ‘image’ sebagai pemberani. Bahwa dirinya tidak takut pada siapa2 termasuk pada atasan, berani menanggung resiko dari sikap kritisnya. 

4. Apabila sikap kritis itu dijadikan kedok untuk merusak nama baik orang lain atau membuka aib sesama. MIsalnya mengkritik di depan umum, tidak dianjurkan dalam Islam.
5. Apabila sikap kritis berkembang menjadi ghibah. Kritik meski bermuatan kkebenaran disampaikan tidak pada orang yang tepat akan tidak efektif.Kritik akan efektif memperbaiki seseorang atau suatu keadaan apabila unsur2nya terpenuhi: 
  • ada niat yang benar dari si pengkritik bahwa yang dilakukan sebagai kewajiban munashohah sesama muslim dan ia mengharapkan pahala dengan melaksanakan kewajiban, 
  • ada kesalahan obyektif yang harus dikritik. Baik kesalahan personal maupun kesalahan kebijakan. 
  • kritik disampaikan dengan cara yang benar dan tepat sesuai dengan adab-adab munshohah dalam Islam 

Menyikapi Orang Kreatif dan Kritis 

Sikap kritis umumnya merupakan indikator kesehatan hidup berjama’ah. Karena instrumen dan proses perbaikan berkesinambungan bekerja dengan baik.Suatu ketika Umar bin Khottob berkata, ” Semoga Alloh SWT merahmati seseorang yang telah menghadiahkan aibku kepadaku”.Yang perlu dikhawatirkan adalah sikap kritis berkembang secara tidak positif dan memicu konflik pribadi yang tidak sehat.Apa dan bagaimana seharusnya para pemimpin amal Islami menyikapi kritik dan kreativitas yang pasti selalu ditemui sepanjang kehidupan berjamaah. 

1. Pemimpin harus bersikap dingin-sedingin2nya terhadap kritik yang ditujukan kepadanya atau kepada kebijakan2nya. Selama kritik itu merupakan indikator kesehatan jamaah tidak ada alasan untuk bereaksi secara berlebihan karena bisa mengarah kepada konflik pribadi yang kontra produktif. 

2. Pemimpin harus punya kerendahan hati yang memadai untuk mau mendengar berbagai kritik yang ditujukan kepadanya. Sikap dingin tidak sama dengan cuek, apatis, atau masa bodoh. Sikap dingin adalah sikap mempertahankan kondisi emosional yang stabil sehingga tidak terganggu bekerja dalam lautan kritik. Karena mendengar adalah pekerjaan seorang pemimpin. Dengan menjadi pendengar yang baik seorang pemimpin telah menunjukkan kematangan pribadi. Ini hanya dapat dilakukan oleh mereka yang memiliki kerendahan hati, obyektivitas, kesediaan yang permanen untuk mengikuti kebenaran dari manapun. 

3. Seorang pemimpin harus bersikap obyektif dalam menanggapi berbagai kritik yang ditujukan kepadanya. Kritik yang baik dan benar adalah hadiah terbaik yang harus disyukuri para pemimpin. Karena inilah Alloh melindungi pemimpin dari kesalahan yang mungkin terjadi seandainya kritik itu tidak disampaikan. 

4. Seorang pemimpin harus tetap mempertahankan prasangka baiknya terhadap semua pengkritiknya. Ada orang yang berniat baik tapi gagal berkomunikasi atau punya kultur karakter yang kasar, sehingga kritik yang baik dan benar tidak tersampaikan dengan cara yang tidak baik. Prasangka baik adalah bagian dari sikap tasamuh dan kasih sayang yang diperlukan untuk hidup langgeng dalam berjamaah. Dibutuhkan pemimpin yang senantiasa menyisakan ruang dalam dirinya untuk berdamai saling memahami, bersepakat dan bekerja sama kembali. 

5. Yang menentukan sikap seorang pemimpin adalah pemahamannya yang dalam tentang visi dan misi da’wah, marhalah dimana dia bekerja, strategi yang disusun dengan berbagai konsiderannya, kebijakan yang dia ambil serta berbagai pertimbangan dasarnya, langkah2 taktis tertentu yang ia lakukan dan mengapa ia melakukan itu. Ia harus mandiri dan independen dalam berpendapat. Sikap inilah yang menjadi dasar untuk menentukan bagaimana sebuah kritik itu dikelola dan diakomodasi dalam kerangka kebijakan dasarnya atau sebaliknya ditolak atau ditunda masa akomodasinya. 

Keragaman yang Produktif 
      Dalam konteks qiyadah-jundiyah yang juga tidak kalah pentingnya adalah bagaimana mengelola perbedaan pendapat dalam jamaah da’wah dan mengubahnya menjadi faktor produktif bagi da’wah?Beberapa tradisi yang kuat yang dengan sendirinya akan mengubah keragaman menjadi faktor produktif. 

1. Tradisi ilmiah -- Da’wah bekerja pada domain yang sangat luas dan rumit, yang tidak mungkin dicerna, dianalisis dan disikapi tanpa penguasaan ilmu pengetahuan dan kemampuan berfikir sitematis dan obyektif. Ada tiga landasan utama tradisi ilmiah: 
        § sistematika berpikir yang solid 
        § struktur pengetahuan yang kokoh 
        § kemampuan pembelajaran yang cepato 
Dengan tradisi ilmiah kita mencegah setiap orang berbicara dari pikiran yang hampa dan hati yang kosong, dari kesembronoan dan kelatahan. Tradisi ilmiah mengajarkan makna pertanggungjawaban atas kata yang kita ucapkan. 

2. Tradisi verbalitas o Tradisi ilmiah hanya bisa tumbuh dengan baik apabila diwadahi dengan keterbukaan yang wajar. o Tradisi ini berkembang bila secara individual punya tradisi verbalitias yaitu kebiasaan mengungkapkan pikiran secara wajar, alami dan apa adanya. o Dengan tradisi verbalitas kita mengajarkan makna keberanian yang natural dan kehormatan yang wajar. 

3. Tradisi pembelajaran kolektif o Baik individu maupun jama’ah berkembang melalui referensi normatif maupun pengalaman sejarah. Da’wah yang kita lakukan adalah mata rantai perjalanan manusiawi dan relatif . Walaupun Alloh sanggup membuat seluruh penduduk bumi beriman seketika, tapi Ia menghendaki itu terjadi melalui da’wah yang dilakukan manusia. Kemampuan kita untuk belajar secara kolektif hanya dapat ditingkatkan jika kita memiliki semangat dan kejujuran yang memadai untuk belajar, seperti: § kemauan untuk mendengar semua pendapat yang beragam, § mencerna § menganalisis § memikir ulang pendapat2 orang laino Dengan tradisi ini kita bisa mengakselarasi pertumbuhan kapasitas da’wah . 

4. Tradisi toleransi Dengan tradisi ini kita harus membiasakan diri untuk memiliki:o kelapangan dada o kerendahan hati o membebaskan diri dari kepicikan o prasangka buruk o mengkondisikan diri untuk menghargai waktuKarena sebuah gagasan terkadang harus diuji di lapangan dan perlu waktu. Tapi membuat seseorang mentoleransi orang lain adalah menunjukkan keluasan ilmu dan wawasannya. Itu yang membantunya memahami orang secara tepat. Memahami alasan-alasan yang mendorong seseorang memiliki sebuah sikap. 

Mengokohkan Tradisi Ilmiah

Beberapa ciri tradisi ilmiah yang kokoh, yang dapat mengubah keragaman menjadi produktivitas kolektif: 
  1. berbicara dan bekerja berdasarkan ilmu pengetahuan, 
  2. tidak bersikap apriori dan tidak memberikan penilaian terhadap sesuatu sebelum mengetahuinya dengan akurat,
  3. selalu membandingkan pendapatnya dengan pendapat kedua dan ketiga sebelum menyimpulkan atau mengambil keputusan, 
  4. mendengar lebih banyak daripada berbicara, 
  5. gemar membaca dan secara sadar menyediakan waktu khusus untuk itu, 
  6. lebih banyak diam dan menikmati saat-saat perenungan dan kesendirian, 
  7. selalu mendekati permasalahan secara komprehensif, integral, obyektif dan proporsional, 
  8. gemar berdiskusi dan proaktif dalam mengembangkan wacana, ide-ide tapi tidak suka berdebat kusir, 
  9. berorientasi pada kebenaran dalam diskusi dan bukan pada kemenangan, 
  10. berusaha mempertahankan sikap dingin dalam bereaksi terhadap sesuatu dan tidak bersikap emosional serta meledak-ledak, 
  11. berfikir secara sistematis dan berbicara secara teratur, 
  12. tidak pernah merasa berilmu secara permanen dan karenanya selalu ingin belajar, 
  13. menyenangi hal-hal yang baru dan menikmati tantangan serta perubahan 
  14. rendah hati dan bersedia menerma kesalahan, 
  15. lapang dada dan toleran dalam perbedaan, 
  16. memikirkan ulang gagasannya sendiri atau gagasan oang lain dan senantiasa menguji kebenarannya, 
  17. selalu memikirkan gagasan-gagasan baru secara produktif  

Senin, 06 Agustus 2018

DAKWAH, POLITIK DAN DEMOKRASI

       DALAM PERSPEKTIF ISLLAM, politik adalah subsistem Islam. Dalam konteks proposal pembangunan peradaban baru Islam, dakwah harus mempunyai power  dan dukungan kekuasaan untuk merealisasikan Islam dan kehidupan masyarakat secara menyeluruh. Tapi, teori perubahan kita menempatkan dukungan kekuasaan itu setela kita menyelesaikan --secara relatif-- proses rekonstruksi sosial budaya dalam tiga level; pertama, rekonstruksi pemikiran dan wawasan keislaman; kedua, penggudangan stok kepemimpinan umat melalui tarbiyah dan kaderisasi; ketiga, mobilisasi massa melalui gerakan penetrasi sosial yang menyeluruh, khususnyamelalui pembentukankelas menengah baru kaum muslimin.

       
      Itulah sebabnya kita menganggap debat dialektis antara "Islam budaya" dan " Islam politik" yang marak sepanjang dekade '80-an dan '90-an --dalam perspektif ini-- sebagai debat kontra-produktif dalam proses pembangunan umat. Debat itu bukan saja tidak punya akar kebenaran dalam referensi Islam, tetapi juga lebih banyak dipengaruhi warisan psiko-politikIslam yang tidak menguntungkanposisi generasi baru Islam angkatan '60an serta pendekatan sekuriti yang represif dari orde baru terhadap umat Islam. dengan begitu arus Islam budaya dan Islam politik merupakan dua cara bereaksi terhadap situasisosial politik sesaatyang cenderung reaktif dan sporadis dan tidak dibangun dari pemikiran strategis dalam kreangka pembangunan umat.

       Proyek pradaban Islam mengharuskan kita menghadang belahan-belahan budaya dan politik secara holistik. Dimana keduannya di integrasikan dalam suatu gerakan sosial budaya yang berorientasi melakukan mobilitas horisontaldengan gerakan politik praktisyang melakukan mobilitas vertikal. Gerakan sosial budaya atau mobilitas orisontal itu bertujuan mengkondisikan umat secara spritual, intelektual, emosional dan fisik untuk melaksanakan Islam dalam kehidupanmereka secara menyeluruh. Sementara gerakan politik praktis itubertujuan menyambut arus tuntunan umat itu secara legal konstitusional. Atau dengan kata lain, disini kita melakukan semacam akomodasi konstitusinal terhadapa arus sosial budaya yang sudah merata di masyarakat. Itulah sebabnya tema-tema dakwah kita --khususnya dikampus--pada dekade '80-an dan '90-an cenderung ideologis-indokrinatif. berorientasi pada model sosial Rasulullah saw., rigid dalam merujuk kepada alquran dan assunnah, berfokus pada pembentukan generasi Islam dan terkesan apolitik. Karena yang sedang kita lakukan saat itu adalah membangun ulang identitas sosial budaya kita. Dan, kita harus demokratisasi global melanda negeri kita dan peluang-peluang politik mulai terbuka sementara usaha-usaha rekonstruksi sosial budaya sudah relatif memadai, kita melakukan ekspansi pada tema dan wilayah dakwah; merambah wilayah politik dalam alam demokrasi. Karena tulang punggu umat ini relatif sudah kuat dan identitas sosial budaya kita relatif sudah jelas, maka kita memutuskan untuk masuk gelanggang percaturan politik praktis.

DALAM ALAM DEMOKRASI
       Perbedaan mendasar antara demokrasi sekuler dengan konsep politik Islam terletak pada pandangan tentang siapa pemegang kedaulatan. Konsep demokrasi sekuler memberikannya kepada rakyat. Mereka mengatakan, kedaulatan itu ada ditangan rakyat karena suara rakyat adalah suara tuhan. Sementara dalamm konsep Isla, kedaulatan sepenuhnya ada ditangan Tuhan dan suara Tuhan harus menjadi suara rakyat. Implementasinya, hukum dalam demokrasi sekuler merupakan nota kesepakatan bersama yang di produk melaluui konstitusi, sementara dalam Islam, hukum itu given  dan adalah tugas konstitusi untuk merealisasikannya.

       perbedaaanitu snagat mendasar. Tapi, titik temu keduanya  juga sangat mendasar. Yaitu, pada konsep partisipasi. Konsep ini memberikan memberikan posisi yang kuat kepada masyarakat terhadap negara dan mengunggulkan akal kolektif atas akal individu. Pemberddayaan masyarakat terhadap negara berbasis pada nilai-nilai kebebasan dan hak-hak asassi manusia, sedang keunggulan akal kolektif berbasis pada upaya mengubah keragaman menjadi sumber kekuatan, kreatifitas, dan produktivitas. Karena itu demokrasi mempunyai Implikasi yang kuat terhadap proses pemberdayaan masyarakat.

       Titik temu inilah yang kemudian mendasari sikap kitaterhadap demokrasi. Bahwa seperti kata imamSyahid Hasan Al-Banna dalam Majmu'at Al-Rasail, walaupun demokrasi bukan sistem Islam, tapi inilah sistem politik modern yang lebih dekat dengan Islam. Secara Hhistoris kemudian kita lihat bahwapenjajahan eropa atasDunia ISlam, munculnya penguasa-penguasa tirandan pemerintahan militer represif setelah kemerdekaan, telah mematikan potensi umat secara keseluruhan. Dan, negara-negara Imprealis baratsecara sistematis membentuk dan mempertahankan pemerintahan militer dinegara-negara Islam untuk tujuan tersebut. Maka, di atas wilayah geografi yang luas , sumber daya alam yang sangat kaya, dan sumber daya manusia yang sangat banyak, kaum muslimin menjadi masyarakat paling miskin, paling bodoh, paling terbelakang di dunia. Berangkat dari titik temupada konsep partisipasi antara Islam dengan demokraasi dan persoalan historis, dari potensi umat yang tidakterberdayakan. kita kemudiann berkesimpulan seperti ini : demokrasi adalah pintu masuk bagi dakwahuntuk memberdayakan umat, kemudian melibatkannya dalam mengelola negaranya sendiri, lalu pada akhirnya memberi nya mandat untuk memimpin kembali dirinya sendiri

       Nilai dari kebebasann dan penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia adalah syarat sosial yang akan memicu proses kreatifitas dan produktivitas masyarakat. kebebasan akan menghilangkan hambatan ketakutan dan membantu setiap individu untuk mengeksplorasi seluruh potensinya. Dan itu membuat seluruh individu dalam masyarakat demokrasi mempunyai tingkat produktivitas dan kreativitas yang baik, sesuatu yang akan menjadikannya mandiri, tangguh dan berdaya tahan tinggi. Kemandirian, ketangguhan, dan ketahanan individu secara sikuensial akan juga membentuk masyarakat yang mandiri, tangguh dan berdaya tahan tinggi. Itulah sebabnya negara-negara demokrasi bisa mengalahkan negara-negara otoriter karena keunggulannya dalam bidang ketahanan dan resistensi individu serta masyarakatnya.

      Maka, partisipasi politik di alam  demokrasi, seperti yang sekarang kita lakukan, disamping mempunyai akar kebenaran dalam referensi Islam, juga punya makna strategisbagi proyek peradaban kita. bahwa ini adalah upaya kita meretas jalan bagi umat secara aman dan bebas untuk membangun dirinya, bahkan memiliki duniannya sendiri.

      Saya teringat kalimat yang di ungkapkan dengan rada miris dan setengah berharap oleh pemikir dakwah abad ini, Dr. Yusuf Al-Qardhawi, " Kalau saja penguasa tiran yang bercokol di panggung kekuasaan di negara-negara Islam itu, mau membiarkan kita bekerja membangun umat secara tenang dan aman, tanpa tekanan dan gangguan keamanan, maka kita mungkin hanya membutuhkan waktu 20 tahun untuk mengembalikan kejayaan Islam.

       Dibalik semua hikmahyang kita peroleh dari tekanan politik-militer para penguasa tiran terhadap gerakan dakwah diberbagai negara Islam, serta proses pendewasaan kdari konflik panjang antara gerakan Islam dan negara, tapi harus diakui bahwa penghadap-hadapan seperti itu telah menguras begitu banyak energi peradaban kita, tentu saja di samping luka-luka historis yang secara pskologis selalu mengganggu hubunngan Islam dan negara.

      Yang sekarang kita lakukan adalah belajar melampaui masa-masa itu dan berusaha membalikaningatan kolektif kita dari masa lalu ke masa depan.

Minggu, 05 Agustus 2018

MENIKMATI DEMOKRASI "Strategi Dakwah Meraih Kemenangan"

3. PROSES PERALIHAN

       SAYA PERCAYA tahapan dakwah dan amal Islam yang yang saya sebut di "Proyek Peradaban Kita" seudah menjadi pengetahuan umum kalangan aktivis dakwah. Tapi, sejumlah catatan tambahan rasannya harus disebutkan disini.

       Pertama, sebenarnya tidak ada jarak yang tegas antara satu tahap dengan tahap yang lainnya. Sebab, tahapan-tahapan iitu saling terkait dan saling berkesinambungan. Sehingga, ketika kita memutuskan melangkah kesusatu tahapan baru, itu sama sekali tidak berarti meninggalkan tahapan sebelumnya. Misalnya, ketika masuk mihwar muassasi (tahapan institusi), itu tidak berarti kita tidak lagi melakukan kaderisasi. Yang sebenarnya terjadi adalah kader yang kita miliki, secara kualitatif dan kuantitatif, relatif sudah cukupuntuk melangkah ke tahap amal berikutnya sambil tetap melakukan program kaderisasi secara berkesinambungan. Bahkan, kaderisasi dilakukan menjadi dua level: pertama meningkatkan kualitas kadder yang sudah ada; kedua, melakuka rekrutmen kader-kader baru.

       Kedua, keputusan untuk memasuki tahapan baru dalam amal Islamtidak saja ditentukan oleh pertimbangan kondisi internal dakwah, tetapi juga oleh peluang dan tantangan yang diciptakan dinamika lingkungan straegis eksternal. Karena itu, boleh jadi syarat-syaratinternal untuk memasukitahapan baru sudah terpenuhi, tapi kondisi eksternal belum memungkinkansehingga satu marhalah mengambil waktu lebih lama. 

       Ketiga, keputusan untuk memasuki tahapan baru sepenuhnya merupakan wewenang para pemimpin dakwah. keputusan itu diambil melalui proses ijtihad jama'i yang kita sebut syuro. yang namanya ijtihad, walauaun dilakukan secara kolektif, tetap terbuka kemungkinan benar-salah. Disamping bertumpu pada data kondisi internal dan analisis-prediksi lingkungan strategis eksternal keputusan itu juga bersandarkepada firasat qiyadah (pemimpin) tentang masa depan dakwah. Jadi, Proses pengambilan keputusan itu menggabungkan semua kualifikasi yang menentukan mutu keputusan; akurasi data, kedalaman analisis, ketajaman firasat dan intuisi, dan sifat kolektifitas syuro. sehingga, efek samping yang di timbulkan oleh kemungkinan salah dalam keputusan lebih mudah dieliminir atau bahka dinegasikan.

       Keempat, praralihan dari satu tahap krtahap lain harus disetai langkah antisipasi terhadap berbagai kemungkinan positif-negtif yang menyertai peralihan marhalah tersebut. misalnya, ketika kitamemutuskan membentuk partai kita mengalokasikan sebagaian besar sumber daya untuk keperluan pemenangan pemilu. Efeknya, ada gangguan terhadapprogram pendidikan dan pembinaan biasanya selalu ada. Tapi, dengan mengintegrasikan program rekrutmen kader baruatau peningkatan kualitas kader lama kedalam program kampanye politik, kita dapat mengeliminir efek itu, bahkan mengubahnya jadi peluang. Apalagi dalam perspektif dakwah, capaian-capaian politik itu dengan sendirinyamearupakan capaian-capaian dakwah atau setidak-tidaknya mendukung pencapaian beberapa terget dakwah dalam bidang lain. MIsalnya, dengan mendukung prosesdemokratisasi, kita memberika legitimasi politik bagi kebebasan berdakwah. 

       Kelima, pentahapan terhadap amal islami merupakan keniscayaan yang bersifat alfabetis. Sehingga, peluang-peluang eksternal yang tersedia tetap tidak dapat dimanfaatkan apabila syarat-syarat internal untuk itu belum tercapai. Misalnya, dilingkungan ada prosesdemokratisasi yang berlangsung dengan baik dan mendapatkan dukungan keamanan dari militer, tapi jumlah dan sebaran SDM belum memadai tingkat penerimaan sosial juga belum cukup merata. maka peluang itu tidak boleh diambil. Sebab itu akan mengubah peluang menjadi jebakan yang melahirkan masalah-masalah baru. Dengan demikian, pemenuhan syarat-syarat internal harus dijadikan pertimbangan utama. Dukunagn kondisi eksternal mengikuti pertimbangan internal itu harus bersifat objektif terhindar dari sikap optimismeatau pesimisme berlebihan. 

Syarat Keterbukaan
       Sekarang amal Islami telah memasuki era keterbukaan (jabriyah) dan bekerja dengan cara-cara terbuka juga. KOndisi yang dibutuhkan untuk memasuki era keterbukaan, kata Syekh Muhammad Ahmad Al-Rasyid, adalah jumlah kader yang cukup, situasi sosial politik yang kondusif, penerimaan yang baik dari masyarakat dan tersediiaanya kendaraan yang  aka digunakan. 

        Pertama, secara kuantitatif sebaran dan jumlahkader serta pendukung dakwah harus berada pada suatu angkayang relatif besardan tidak mungkin dimatikan oleh musuh dakwah jika secara tiba-tiba dakwah mendapat serangan. karena itu jumlah dan sebaran kader serta pendukung merupakan kekuatan strategis yang di perhitungkan musuh dakwah. Sehingga, walaupun benci kepada dakwah, mereka tidak sanggup melumpuhkan atau mematikannya.

        Kedua, situasi sosial politik lingkungan eksternal harus kondusif untuk menyambut kehadiran dakwah dengan label yang jelas. Ini mengharuskan para pemimpin dakwah memantau lingkungan strategis eksternalsecara berkesinambungan dan memahami dinamika perubahannya secara cermat. Kesalahan dalam menganalisis kondisi eksternal akan menyebabkan kita salah dalam menentukan timing muncul kepermukaan. Dan kesalahan itu akan memunlkan dakwah tidak mendaptkan gema yang luas dan sambutan yang hangat.

       Ketiga, harus ada tingkat penerimaan sosial yang luas atas kehadiran kita. Ini tidak saja di tentukan oleh timing yang tepat, tapi juga faktor komunikasi publik yang baik. Dai segi timing kehadiran kita harus dapat dipersepsi masyarakat sebagai solusi problematika yang sedang mereka hadapi. Sehingga kita kita diaggap pahlawan yang menyelamatkan, bukan faktor pengaruh yang memperumit masalah mereka. karena itu timing yang tepat itu harus didukung kemampuan komunikasi publik yang handal.

       Keempat, kalau ketiga syarat itu sudah terpenuhi, harus ada sebuah kendaraan yang mengantar kita muncul ke permukaan. Misalnya partai politik atau organisasi kemasyarakatan. kendaraan itu merupakanidentitas institusional dakwah yang menjadi nama dan mereknya, yang akan menjadi sumber perbincangan berbagai kalangan.

       Era keterbukaan mengharuskan kita mempunyai nama dan identitas. Dan nama kita adalah Partai Keadilan. 

Kamis, 02 Agustus 2018

MENIKMATI DEMOKRASI "Strategi Dakwah Meraih Kemenangan"

2. PROYEK PERADABAN KITA (bag.2)


       KEDUA, membangun basis sosial yang luas dan merata sebagai kekuatan pendudkung dakwah. inilah yang kita sebut dengan mihwar sya'bi. Kalau basis organisasi bersifat elitis-eksklusif, maka basis sosial bersifat masif dan terbuka. Kalau basis organisasi berorientasi pada kualitas, basis sosial berorientasi kualitas. kalau organisasi meretas jalan, maka masyarakatlah yang akan melaluinya. Kalau para pemimpin melihat kedepan dengan tangan-tangannya yang banyak. Kalau pemimpin yang hebat mendapatkan dukungan publikyang luas, maka akan terbentuklah sebuah kekuatan dakwahyang dahsyat. begitulah kita menciptakan sinergi antara pemimpin dan umatnya. antara kualitas dan kuantitas. Kedua-duanya mempunyai peranan yang sama strategisnya.

        Kalau organisasi dibentuk melalui rekruitmen kader, massa dibentuk melalui opini publik. KAlau kader pemimpinnya dibentuk melalui tarbiyah dan pengkaderan, massa dibentuk melalui media massa dan tokoh publik. Kalau kader terpesona pada pikiran karena tingkat intelektualitasnya yang tinngi, massa terpesona pada tokoh karena kadar emosinya yang dominan.

       Yang ingin kita capai disini adalah terbentuknya opini publik yang Islami, struktur budaya dan adab-adab sosial yang Islami, dominasi figur dan tokoh Islam dalam masyarakat.

       KETIGA, membangun berbagai institusi untuk mewdahi pekerjaan-pekerjaan dakwah, diseluruh sektor kehidupan dan diseluruh segmen masyarakat. Ini yang kita sebut denga mihwar muassasi. Di sini dakwah memasuki wilayah pekerjaan yang luar dan rumit. Karena itu, perlu pengelompokan pekerjaan. Kita membutuhkan semua jenis institusi sosial untuk mewadahi aktivitas sosial. kita membutuhkan seluruh jenis institusi ekonomi untuk mewadahi aktivitas ekonomi; kita juga membuutuhkan seluruh institusi politik untuk mewadahi semua aktivitas politik. SElain institusi kita bentuk, kita juga perlu mengisi institusi-institusi sosial, ekonomi, politik dan militer yang sudah ada, baik yang ada dimasyarakat maupun yang ada di pemerintahan.

       Kalau dalam tahap pembentukan basis sosial kita menyebar kader-kader dakwahke dalam masyarakat, maka dalam tahap institusi kita menyebar kader ke seluruh institusi yang ada.  Kalau dalam tahap pembentaukan basis sosial kita melakukan mobilitashorizontal dalam tahap institusi kita melakukan mobilitas vertikal. Kader-kader dakwah haruslah mampu mengisi struktur yang ada dilembaga tinggi negara ; legislatif, eksekutif dan yudikatif. Kader-kader dakwah juga harus mampu mengisi struktur yang tersedia dilembaga-lembaga ilmiah, ekonomi, sosial dan militer. dengan begitu terbentuklah jarngan kader diseluruh institusi strategis. Ini merupakan pranata yang dibutuhkan untuk menata kehidupan bernegara yang Islami.

       Kalau basis massa bertujuan membentuk opini publik yang Islami, maka basis institusi bertujuan memberikan legalitas politik terhadap opini publik itu.

      KEEMPAT, akhirnay dakwah ini harus sampai pada tingkat institusi negara, Sebab, institusi negara dibutuhkan dakwah untuk merealisasikan secara legal dan kuat seluruh kehendak Allah swt. atas kehidupan masyarakat. Inilah yang kita sebut mihwar daulah. Negara adalah sarana, bukan tujuan. Dan negara merupakan institusi terkuat dan terbesar dalam masyarakat. kebenaran harus punya negara karena --kata Ibnu Qoyyim-- kebatilan pun punya negara.

      Melalui institusi negara ittulah kita berbicara pada dunia seperti yang perna Rasulullah saw. katakan kepada Heraclius, "MMasuklah ke dala Islam supaya kamu selamat!" atau kita katakan kepada mereka seperti yang pernah diucapkan Nabi Sulaeman kepada Ratu Balqis, "Ini (surat)datang dari Sulaeman, dan sesungguhnya (ia datang) dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (Q.S. Al-Naml: 30)

Rabu, 01 Agustus 2018

MENIKMATI DEMOKRASI "Strategi Dakwah Meraih Kemenangan"

2. PROYEK PERADABAN KITA (bag.1)

       SEJAK AWAL kita sudah menetapkan misi dakwah ini. Yang ingin kita raih adalah ridha Allah swt. dengan beribadahkepadaNya. Dan, ibadah itu berupa menerapkan dan menyamai seluruh kehendak-kehendak Allah swt.--yang Ia turunkan dalam bentuk syariat(agama)-- dalam kehidupan kitasebagai individu, masyarakat dan negara. Maka, kerja kita dalam dakwah ini adalah membangun sebuah kehidupan berdasarkan disain Allah swt.

       Membangun sebuah kehidupan yang Islami, dengan begitu, adalah cita-cita dakwah kita. Tentulah itu merupakan pekerjaan berat yang sangat melelahkan, membutuhkan waktu panjang yang melampaui umur individu bahkan umur generasi. Ia juga memerlukan sumberdaya manusia dalam lapisan masyarakat untuk semua sektor kehidupan dengan semua jenis profesi dan keahlian. Selain itu, ia juga membutuhkan sumber daya fisik dan dukungan financial yang sangat besar. Dan dari itu semua, ia membutuhkan energi ruhiyah dan semangat jihad serta elan vital yang dahsyat; konsep, metode dan sistematika perjuangan yang jelas lagi mantab; gagasan dan pemikiran brilian serta inovasi yang berkesinambungan; kepemimpinan yang kuat dengan organisasi yang solid.

      Membangun kehidupan yang islami adalah sebuah proyek peradaban raksasa. Proyek besar bertujuan merekonstruksi pemikiran dan kepribadian manusia muslim agar berpikir, merasa dan bertindak sesuaidengan kehendak Allah swt. atau dengan referensi Islam. Kemudian membawa manusia muslimbaru iti kedalam kehidupan nyata, dengan kesadaran barunya, atau menata ulang seluruh sektor kehidupan masyarakatnya agar hidup dengan budaya, sistem, hukum dan institusi yang seluruhnya jelmaan kehendak-kehandak Allah swt. Kemudian umat muslim yang baru itu, yang telah menjadi model representatif dari kehendak-kehendak Allah swt. keluar dari dirinya sendiri melampaui wilayah kepentingan spesifikasinyauntuk menebar bunga hidayah dan rhmat kepada seluruh umat manusia. menciptakan tamn yang seimbang  dimana setiap orang menemukan keamanan yang diciptakan oleh keadilan dan kenyamanan yan dilahirkan oleh kemakmuran, dimana setiap orang merasakan kemudahan yang diciptakan olaeh ilmu pengetahuan dan harapanserta optimisme yang dilahirkan oleh agama. Proyek peradaban ini bertujuan menciptakan taman kehidupan dimana bunga-bunga kebaikan, kebenaran dan keindahan tumbuh berssemi. Dan taman itulah yang kelak menjadi saksi kemanusiaan dan sejarah.

      "Dan demikianlah kami jadikan kamu sebagai umat pertengahan, supaya kami menjadi saksi atas manusia dan supaya Rasul itu (Muhammad saw) menjadi saksi atas kamu sekalian."  Q.S. Al-Baqarah: 143)

       Pekerjaan-pekerjaan dakwah untuk menyelesaikan proyek itu harus dilakukan dalam 4 taha: Pertama, membangun sebuah organisasi yang kuat dan solid sebagai kekuatan utama yang mengoperasikan dakwah. Inilah yang kita sebut dengan mihwar tanzhimi.  Organisasi ini adalah tulang punggung dakwah dan karenannya harus kuat memikul beban berat dalam waktu yang panjang. Supaya tulang punggung itu kuat, harus diisi oleh orang-orang yang juga kuat dan tangguhdalam seluruh aspek kepribadian. sebab merekalah sesungguhnya yang disebut sebagai pemimpin umat atau lokomotif yang akan membawa gerbong panjang umat ini. Untuk mencetak pemimpin-pemimpin umat itu, kita memerluka proses pembinaan dan kaderisasi yang sistematis, integral, dan waktu yang cukup panjang.

      Merekalah yang dipilih untuk dikader dan dibina haruslah orang-orang terbaik yang ada di masyarakat. Mereka memiliki bakat, intelegensi dan kesiapan dasar untuk melakukan pekerjaan besar serta memikul amanah yang berat. Karenanya inilah mesin pencetak pemimpin-pemimpin umat.

      Kedua, ...
       

Selasa, 31 Juli 2018

MENIKMATI DEMOKRASI "Strategi Dakwah Meraih Kemenangan"

1. MARI KITA BERHENTI SEJENAK (bag. 2)


       Kedua, karena kita hidup di sebuah masa dengan karakter tidak stabil. Perubahan-perubahan dilingkungan strategis berlangsung dalam durasi dan tempo yang sangat cepat. dan perubahan-perubahan itu selalu menyediakan peluang dan tantangan yang sama besarnya. Dan apa yang di tuntut dari kita, kaum dai adalah melakukan pengadaptasian, penyelarasan, penyeimbangan dan --pada waktu yang sama--meningkatkan kemampuan untuk memanfaatkan momentum. Ketiga, karena kita mengalami seleksi dari Allah swt. seccara kontinu sehingga banyak duat  yang berguguran, juga banyak yang berjalan tertatih-tatih.

       Semua itu membutuhkan perenungan yang dalam. Maka, dalam majlis iman  ini , kita mengukuhkan sebuah wacana bagi proses pencerahan pikiran, penguatan kesadaran, penjernihan jiwa, pembaharuan niat dan semangat jihad. Dan inilah yang dibutuhkan oleh dakwah kita saat ini.

       Tradisi penghentian atau majlis iman semacam ini harus kita lakukan dalam dua tingkatan;; individu atau jamaah. Pada tingkatan individu, tradisi ini dikukuhkan melalui kebiasaan merenungi, menghayati dan menyelami telaga akal kita untuk menemukan gagasan baru yang kreatif, matang dan aktual disamping kebiasaan muhasabah, memperbaharui niat, menguatkan kesadaran dan motivasi, serta memelihara kesinambungan semangat jihad. Hasil-hasil inilah yang kemudian kita bawa kedalam majlis iman untuk kita bagi kepada yg lain sehingga akal individu melebur dalam akal kolektif, dan kreatifitas individu menjelma menjadi kreatifitas kolektif.

      Kalau ada pemaknaan yang apalikatif terhadap hakikat kekhusyukan yang disebutkan dalam alqur'an, maka inilah salah satunya. Penghentian inilah yang mewariskan kemampuan berfikir strategis, penghayatan emosional yang menyatu secara kuat dengan kesadaran dan keterarahan yang senantiasa terjagadisepanjang jalan dakwah yang berliku dan curam. Maka, Allah swt. berfirman, "Belumkah datang saat bagi orang-orang beriman untuk mengkhusyukan hati dalam mengingat Allah dan dalam (menjalankan) kebenaran yang diturunkan. Dan bahwa hendaklah mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang telah diberikan Alkitab sebelumnya (dimana) ketika jarak antara mereka (dengan sang Rasull) telah jauh, maka hati-hati mereka menjadi keras, dan banyak dari mereka yang menjadi fasik." (Q.S. Alhadid: 16).

       beginilah akhirnya kita mengapa Rasulullah saw. menyunahkan umatnya melakukan itikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. atau mengapa Allah swt. menanamkan kegemaran berkhalawat pada diri Rasulullah saw. tiga tahun sebelum diangkat menjadi Rasul: atau bahkan mengapa Umar Bin Khattab mempunyai kebiasaan itikaf di Masjid Haram sekali sepekan dimasa jahiliyah. Begini pula akhirnya kita memahami mengapa majelis-majelis kecil para sahabat Rasulullah saw.di masjid atau di rumah-rumah berubah menjadi wacana yang melahirkan gagasan-gagasan besar atau tempat merawat kesinambungan iman dan semangat jihad. Maka ucapan mereka adalah perenungan.

       Tradisi inilah yang hilang di antara kita sehingga diam kita berubah menjadi imajinasi yang liar, ucapan kita kehilangan arah dan makna. Maka dakwah kehilangan semua yang ia butuhkan pikiran-pikiran baru yang matang dan brilian, kesadaran yang senantiasa melahirkan kepekaan, dan semangat jihad yang tak pernah padam di sepanjang jalan dakwah yang jauh dan berliku.