Rabu, 14 April 2021

KESBANGPOL KAB.KAPUAS APRESIASI LPJ BANPARPOL DPD PKS KAB.KAPUAS

PENYERAHAN LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN BPK RI TAHUN 2020


(Kuala Kapuas, 13/4/2021) Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Kapuas, diwakili oleh Kasubid Pengembangan Budaya dan Etika Politik, Nanang Pandi, menyerahkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK RI Tahun 2020 kepada Dewan Pengurus Daerah Partai Keadilan Sejahtera Kabupaten Kapuas yang dihadiri oleh Ketua dan Sekretaris DPD PKS Kabupaten Kapuas Aldhika Kurniawan,S.T.,M.T dan Hartopo S.Kom.

Dalam pesannya Kesbangpol Kab. Kapuas mengapresiasi Laporan Pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran Banparpol yang disampaikan DPD PKS Kab.. Kapuas telah sesuai dan diprioritaskan untuk pelaksanaan pendidikan politik bagi anggota parpol dan masyarakat.

Dikesempatan yang sama, selain penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan Tahun 2020, dilaksanakan juga penyerahan Surat keputusan Bupati Kapuas Nomor : 99/KESBANGPOL Tahun 2021 tentang Penetapan Besaran Bantuan Keuangan Partai Politik Kabupaten Kapuas Tahun Anggaran 2021 Hasil Pemiihan Umum Legislatif Tahun 2019 Periode 2019-2024.

Jumat, 09 April 2021

Kegiatan Anggota DPRD Kab. Kapuas dari Partai Keadilan Sejahtera dr. H. M. Rosihan Anwar

DOKUMENTASI KEGIATAN DEWAN ANGGOTA KOMISI II


 Kegiatan Konsultasi dan Koordinasi di kota Banjarmasin
 
 

 Rapat Bapemperda
 
 
Rapat Dengar Pendapat Komisi II
 

Selasa, 06 April 2021

Kegiatan Anggota DPRD Kab. Kapuas dari Partai Keadilan Sejahtera SRI UMI DARYATUN, S.Pd

DOKUMENTASI KEGIATAN DEWAN KOMISI I (Januari)
 

 Kegiatan Kaji Banding PANSUS 2 bersama Mitra Kerja
 
 

 Kegiatan Musremang
 
 

Rapat Badan Musyawarah

Kamis, 01 April 2021

BERKORBAN ITU NIKMAT

 “BERKORBAN ITU NIKMAT”

Dikutib dari Majalah Tarbawi (edisi 82 Th.5)

 

Berkorban artinya memberikan sesuatu untuk orang lain, mengeluarkan sesuatu bukan untuk kepentingan sendiri atau melakukan sesuatu yang hasilnya bukan untuk diri sendiri. Tapi kenapa pengorbanan selalu memberi rasa nikmat? Kenapa memeras tenaga, berfikir, mengucurkan keringat, mengeluarkan harta, hingga menyumbangkan darah dan nyawa unutk kepentingan orang banyak, selalu memunculkan keteduhan yang luar biasa di dalam hati.

Kenapa, tetap memberi meski dalam kondisi sempit, berusaha menanamkan  kebahagiaan untuk orang lain meski dalam kondisi sulit, memberi manfaat pada orang lain meski dalam keadaan memerlukan, selalu melahirkan kenikmatan dalam diri orang yang melakukannya.

Saudaraku,

Pernahkah kita merasakan bagaimana nikmatnya menyisihkan uang untuk berinfaq dan membahagiakan orang lain, dalam kondisi kita juga memerlukannya? Bagaimana indah dan damainya hati saat kita memeras tenaga, menguras pikiran, mengeluarkan apa yang kita punya, untuk kegiatan dakwah ilallah? Bagaimana sejuknya hati, dikala kita bisa memberi sesuatu yang berharga, yang kita miliki, untuk membahagiakan orang lain?

Memberi, secara lahir adalah mengeluarkan sesuatu untuk orang lain yang berarti juga mengurangi sesuatu yang kita miliki. Tapi secara makrawi, memberi sesuatu kepada orang lain itu sama dengan memunculkan ketenangan batin, kenikmatan dan kecerahan tersendiri bagi yang melakukannya.

Kandungan makna inilah yang banyak dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para salafushalih. Anas ra pernah mengatakan bahwa Rasulullah adalah orang yang tidak pernah diminta sesuatu, kecuali ia pasti memberi.

Saudaraku,

Para salafushalih bahkan lebih menginginkan kesulitan dalam berkorban dan memberi untuk orang lain tidak terganggu dengan imbalan pemberian dan imbalan.

Imam Al Auzai menolak pemberian murid-muridnya yang ingin belajar hadits darinya. “Kalian boleh memilih. Jika kalian ingin hadiah ini aku terima, aku tidak akan mengajarkan hadits pada kalian. Jika kalian ingin belajar hadits dariku, maka hadiah ini tidak aku terima,” katanya.

Ulama lainnya, Isa  bin Yunis, mengeluarkan kata-kata yang lebih tegas lagi dalam hal yang sama. Ia mengatakan, “Tidak ada makanan dan minuman yang aku terima untuk menyampaikan hadits Rasulullah SAW. Meskipun kalian memenuhi masjid ini dengan emas seluruhnya.” Itu dikatakan Isa bin Yunis kepada penguasa yang ingin memberinya hadiah.

Apa rahasia di balik penolakan itu? Mereka, pasti lebih ingin merasakan nikmatnya berkorban, indahnya memberi, kelezatan lelah dan sejuknya hati saat bersusah payah, dalam memberi manfaat banyak orang demi meraih keridhaan Allah SWT.

Berkorban itu nikmat saudaraku,

Seperti pengorbanan total yang telah ditunjukan oleh Syaikhul Inifadhah, Syaikh Ahmad Yasin—Semoga Allah SWT menempatkannya dalam Jannah-Nya. Bagaimana dengan tubuhnya yang lumpuh, ia tetap memimpin pergerakan dakwah dan perlawanan unutk membebaskan Palestina  dan melindungi kiblat pertama Masjid Al Aqsha yang di rampas oleh Israel. Bagaimana dalam kondisi mata yang sulit melihat, tapi mata hati dan fikirannya tidak pernah terlepas dari memperhatikan langkah perjuangan umat Islam melawan penjajah Zionis Israel.

Bagaimana dalam kondisi yang renta, keluar masuk penjara, tapi semangatnya terus berkobar dengan keberanian yang sulit datandingi. Ia terus menerus menyongsong bahaya kematianyang mengancamnya setiap detik. Bagaimana ia yang selalu berada di atas kursi roda, tapi tetap berangkat ke masjid di waktu fajar untuk menunaikan sholat subuh berjamaah. Saudaraku, berkorban itu nikmat.

Ia telah melewati usia hidupnya dengan tekad yang membaja, keberanian yang tinggi dan kepasrahan total kepada Allah SWT. Hingga akhirnya ia berhasil mencapai prestasi hidup yang diidamkannya, mati syahid di jalan jihad. Gugur setelah mengisi relung-relung usianya, dengan pengorbanan yang tak pernah berhenti. Betapa indahnya akhir hidup seperti itu.

Saudaraku, Dr. Yusuf Qaradhawi, dalam memorandumnya pernah menceritakan sebuah kisah yang sangat menyentuh saat ia ditahan di penjara perang Mesir. Seorang Ikhwan bernama Hilmi Mukmin dipukuli secara membabi buta oleh cambuk dan tongkat. Ia dihukum keras karena menolak diperintahkan untuk memukul muka saudaranya, sesame Ikhwan. Ia lebih memilih disiksa oleh algojo penjara dan memelihara kehormatan saudaranya.

Ternyata, meski dihujani pukulan bertubi-tubi, Hilmi Mukmin tak mengeluarkan kata-kata apapun yang menunjukan bahwa ia merasakan sakit. Sikap Hilmi Mukmin, benar-benar membuat algojo penjara putus asa hingga ia berhenti kelelahan memukulinya. Para algojo itu lalu memeluk Hilmi Mukmin untuk meminta maaf dan mengobati tubuhnya yang berlumuran darahdan penuh luka. Mereka mengira Hilmi Mukminn adalah seorang wali Allah dan mereka takut menerima pembalasan dari seorang wali Allah. “Semua mukmin ysng bertakwa adalah wali di antara wali-wali Allah.”

Bagaimana Saudara Hilmi Mukmin bukan seorang wali Allah? Bukankah dia telah merelakan balasan Allah dari apa yang ia lakukan untuk membela saudara-saudaranya? “Ia telah ridah dengan Al Quran sebagai prinsip dan manhaj hidupnya. Ia juga telah menjadikan Rasul sebagai pimpinannya dan jihad sebagai jalannya. Dia telah teguh di atas prinsip itu dan bersabar atas apa yang ia terima di jalan Allah,” begitu tulis Qaradhawi. “Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.” (QS Yunus : 62)

Berkorban itu nikmat saudaraku,

Namun tetaplah perhatikan kondisi dan suasana saat kita melakukan pengorbanan. Karena, “Bila di hatimu taka da kelezatan yang bisa kamu dapatkan dari amal yang kamu lakukan, maka curigalah hatimu,” ujar Ibnu Taimiyah (Madarijus Salikin, 2/68). Maksudnya, Allah pasti membalas amal seseorang di dunia dengan rasa nikmat, kecerahan dan ketenangan dalam hati. Tapi bila ada orang yang belum merasakan hal itu, berarti amalnya terkontaminasi.

Saudaraku,

Berkorbanlah di jalan ini. Berkorbanlah dengan mengabaikan keinginan syahwat dan mengutamakan keridhaan Allah. Bersabarlah dalam berkorban. Karena menurut para salafushalih, seungguhnya kenikmatan pengirbanan itu ada pada seberapa besar kita bisa bertahan dan bersabar dalam melakukan pengorbanan dalam beramal shalih. Sedangkan pengorbanan tidak mungkin dilakukan tanpa kesabaran. Umar bin Khattab lah yang menyebutkan bahwa lezatnya kehidupan itu ada pada kesabaran dalam perkataannya, “Aku telah membuktikan bahwa kenikmatan hidup itu ternyata ada pada kesabaran kita dalam berkorban."

Jumat, 19 Maret 2021

PILIH YANG PALING BERAT

“PILIH YANG PALING BERAT”

Dikutib dari Majalah Tarbawi (edisi 19 Th.2/30)

Dalam sebuah hadits hasan riwayat Imam Turmudzi, disebutkan sabda Rasulullah SAW, “Usia Umatku berkisar antara 60 sampai 70 tahun.” Ibnu Hajar al Atsqalani, yang mensyarah hadits Rasulullah tersebut mengatakan, “Allah memberi toleransi kepada seseorang untuk menunda ajalnya sampai berusia 60 tahun,” (Fathul Bari, 10/108).

Saudaraku,

Semoga Allah merahmati kita semua. Mari berhitung, berapa sudah usia hidup yang kita jalani? Sampai kapan takdir Allah memberi waktu untuk kita? Bagi kita yang berusia kepala dua, sebagaimana bunyi hadits di atas, berarti kita hanya memiliki kesempatan kurang lebih 40-an tahun. Untuk kita yang berumur kepala tiga, artinya hanya tersisa 30 tahun lagi. Bagi yang berusia kepala empat, berarti kesempatan itu semakin kecil. Dan seterusnya.

Pertambahan usia pun menjadi warning, peringatan. Usia 20 tahun adalah peringatan. Usia 30, peringatan itu bertambah keras. Usia 40 lebih keras lagi. Puncaknya adalah 60 tahun.

Saudaraku,

Tak seorangpun tahu bagaimana dan kapan tempo hidupnya berakhir. Tak ada yang tahu bagaimana dan kapan tubuh menjadi payah oleh sakit. Saat ia tak bisa lagi secara optimal melakukan ketaatan dan amal-amal shalih sebagai tabungan di hari akhir. Seorang Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu, sahabat dekat Rasulullah SAW pun pernah menangis saat menderita sauatu penyakit, di detik-detik akhir hayatnya. ”Aku menangis karena aku justru menderita sakit, pada saat amal ibadahku berkurang, bukan pada saat aku semangat.”

Karena itu, Umar bin Khattab radhiallahu anhu mengatakan, ‘Hasibu anfusakum qobla an tuhasabu”, berhitunglah kepada dirimu sendiri, sebelum engkau dihitung di hari akhir. “Kafaa bi syaibi wa’izan”, cukuplah uban di kepala itu menjadi peringatan, begitu filosofi para salafushalih untuk mengingat dekatnya waktu “panggilan” Allah SWT.

Saudaraku,

Inilah dering peringatan hati yang harus selalu ada dalam diri kita. Dering ini yang akan memicu kesadaran diri untuk segera bekerja sungguh-sungguh, meninggalkan kelezatan semu, palsu dan menipu. Sebagaimana yang dilakukan Shuhaib radhiallhu anhu yang meninggalkan seluruh hartanya untuk menyusul Rasulullah SAW, hijrah ke Madinah. Mendengar pengorbanan Shuhaib itu, Rasulullah SAW bersada, “Beruntunglah perdagangan Abu Yahya … beruntunglah perdagangan Abu Yahya….”

Dengarlah bagaimana Imam Ali karramallah wajhahu, menggambarkan perasaannya bahwa keadaan yang paling ia cintai adalah, memikul pedang di medan jihad, puasa di bawah panas terik matahari dan memuliakan tamu.

Pedang Allah Khalid bin Walid, juga tidak melihat kenahagiaannya dalam masalah dunia. Ia berkata pada dirinya sendiri, “Berada dalam satu unit militer dari Muhajirin dan Anshar, hembusan angina yang sangat dingin dan dalam persiapan menyerang musuh, lebih aku cintai daripada keberadaanku pada malam pesta pernikahan.”

Mereka memindahkan padangan dan pertimbangannya dari amal duniawi pada amal ukhrawi. Berkah pengenalan Allah yang tinggi, menuntun hati mereka untuk selalu bisa mengenali sesuatu yang lebih utama. “Ambisi Anda adalah tergantung sebesar apa cita-cita Anda. Perhatian seseorang terhadap sesuatu, adalah petunjuk apa yang terpendam dalam jiwanya, baik berupa tekad maupun kelemahan,” begitu kata Ibnul Qayyim.

Saudaraku.

Laksanakanlah hak-hak waktu, terutama yang tidak dapat diganti pada waktu yang lain. Terlalu banyak hak waktu yang harus ditunaikan, sehingga sebanyak apapun orang beramal, sebenarnya hak waktu takkan habis.

Ibnu Athaillah menyebutkan, “Usia dan hembusan nafas kita sangat terbatas. Yang sudah pergi berlalu takkan kembali.” Panjang pendek usia manusia memang sepanjang ia bisa bernafas. Hembusan nafas, sama dengan detak jantung dan mengalirnya darah sebagai tanda kita masih hidup. Hidup kitapun berakhir dengan tersumbatnya saluran nafas, berhentinya detak jantung dan aliran darah. Sederhana sekali. Tapi sangat mahal nilainya.

Saudaraku,

Salah satu keadaan yang menyebabkan seseorang surut, lunglai dan tidak konsisten dalam ketaatan, dalam perjuangan dan dalam pengorbanan adalah ketika ia tidak menyadari sempitnya waktu untuk beramal. Kondisi ini antara lain muncul dalam sikap “taswif”, yakni menunda-nunda, santai dan berlambat-lambat melakukan amal-amal shalih. Ulama Islam terkenal asal Kuwait, Syaikh Jasmin Muhalhil, mengatakan penyakit taswif tersebut pada akhirnya akan menjadikan seseorang lamban bergerak dan akhirnya lumpuh. Benarlah sabda Rasulullah SAW, “Tidaklah suatu kaum berlambat-lambat dalam suatu urusan, sampai Allah menjadikannya benar-benar lambat.”(HR. Turmidzi)

Kenapa demikian? Karena menunda-nunda perkerjaan yang menjadi hak waktu, pasti akan menggeser hak waktu lain yang sebenarnya mempunyai hak yang harus ditunaikan juga. Begitu seterusnya. Pergeseran itu, akan berdampak pada menumpuknya hak-hak waktu yang lain hingga akhirnya menjadi sulit dipenuhi.

Sebab itulah, saudraku, Hasan Al-Bashri menegaskan “Jauhi sifat menunda-nunda. Nilai dirimu tergantung pada hari ini, bukan besok. Kalau besok engkau beruntung, berarti keuntunganmu akan bertambah bila hari ini engkau telah beramal. Dan kalau besok engkau rugi, toh engkau takkan menyesal karena telah beramal pada hari ini.” (Az-Zuhd, 4)

Saudaraku,

Ingat, kita hanya memiliki waktu sedikit untuk beramal sholeh. Jauhi bisikan syetan yang mengarahkan kita mengerjakan prioritas pekerjaan nisbi dan semu. Jangan terjerumus pada pertimbangan yang keliru dalam menunaikan hak waktu. Bila suatu waktu kita merasa sulit menimbang amal atau hak waktu apa yang harus lebih dulu kita tunaikan, camkanlah nasihat Ibnu Athaillah berikut ini :

“Jika kabur bagimu dua perkara, maka perhatikanlah salah satu dari keduanya yang paling terasa berat bagi nafsu, lalu ikutilah ia. Karena tidak ada sesuatu yang terasa berat bagi nafsu kecuali sesuatu itu yang benar.”

Semoga Allah SWT memberi kekuatan pada kita untuk selalu berada dalam ketaatan kepada-Nya.