Rabu, 01 Juli 2020

RINGKASAN BUKU ”MENITI JALAN MENUJU MATI SYAHID (2)” KARYA M. LILI NUR AULIA

Dikutib dari Majalah Tarbawi (edisi 207 Th.11)

                Saudaraku,
                Tidak ada cita-cita tinggi bisa tercapai tanpa kesungguhan dan keseriusan. Keseriusan dan kesungguhan adalah tangga ketiga dari persiapan meniti jalan menuju mati syahid. Berusaha untuk tidak meyia-nyiakan waktu dan tenaga yang kita miliki, untuk diberikan di jalan para syuhada. Berusaha agar semakin banyak parit-parit jihad yang kita ada di dalamnya untuk menyongsong kemuliaan. Tidak dibiarkan pertamabahan usia, tanpa menambah bobot amal dan ketaatan kepada Allah SWT.
                Saat menjelaskan perkataan Ibnu Umar, “Jika tiba waktu sore jangan menunggu waktu pagi, dan bila tiba waktu pagi jangan menunggu waktu sore,” Ibnu Hajar mengatakan, “Kerjakan segera apa yang bisa memberi manfaat padamu setelah kematianmu. Segera gunakan hari-hari sehatmu dengan amal shalih, sebab penyakit itu akan menghalangi seseorang dari beramal.” Selanjutnya, ia mengatakan, “Aku khawatir bila kondisi itu tidak diperhatiakn, seseroang akan berakhir hidupnya di akhirat tanpa bekal yang cukup.”
                Dahulu, di zaman Rasulullah SAW, ada dua orang yang bersama-sama masuk Islam. Satu dari keduanya lebih serius dan bersungguh-sungguh menjalani keislamannya, disbanding satu orang lainnya. Salah seorangnya gugur sebagai salah satu syuhada. Satu tahun berikutnya, satu rekannya, juga meniggal sebagai syahid. Thalhah bin Ubaidillah melihat bahwa pemuda yang syahid belakangan itu lebih dahulu masuk surga ketimbang temannya yang juga gugur sebagai syahid. Rasulullah SAW mengatakan, “Apa yang kalian kagumi dari mereka?” Mereka mengatakan, “Ya Rasulullah, orang ini (yang meninggal kedua) lebih serius dan bersungguh-sungguh, lalu dia mati syahid, karen itu dialah yang lebih dahulu masuk surga.” Rasulullah SAW bersabda, “Bukankah dia hidup lebih lama satu tahun dibandingkan temannya itu?” Mereka menjawab, “Ya.” Rasul lalu mengatakan, “Berarti ia telah melewati Ramadha dan ia melakukan puasa, ia telah shalat ini dan itu, juga melakukan sujud dalam satu tahun.” Para sahabat mengiyakan. Rasulullah SAW melanjutkan, “Antara keduanya, ada jarak seperti langit dan bumi.”

                Saudaraku,
                Orang yang bersiap meraih mati syahid, sudah siap menaung kesulitan yang akan dialami. Ia pesiapkan diri untuk sabar dan tidak mundur dari memperjuangkan agama Allah SWT, meski konsekwensinya ia harus mati. Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari, bawha Nafi’ pernah ditanya, “Untuk apa para sahabat berbai’at (sumpah setia) dengan Rasulullah SAW? Apakah untuk mati?” Nafi’ mengatakan, “Bukan. Tapi mereka berbai’at untuk bersabar.” Dalam hadits shahih Bukhari ada pula hadits dari Shalmah yang menetapkan bai’at untuk mati. Ibnu hajar kemudian mengaitkan antara dua riwayat hadits ini dengan ungkapan indah. “Jangan dibenturkan antara perkataan mereka berbai’at untuk mati dan bersabar untuk tidak lari dari medan perang. Karena maksud dari pembai’atan itu adalah : Mereka tidak lari meskipun mati. Bukan mereka harus mati. Itulah yang dimaksud dalam perkataan Nafi’ bahwa para sahabat berbai’at untuk bersabar, atau tetap teguh, tidak balik berlari, dengan resiko kematian ataupun tidak.”

                Saudaraku,
                Marilah kembali menjaga niat yang tulus dan bersih dalam meniti jalan ini. Tak ada di antara kita yang lebih baik dari yang lain. Jika  ada yang secara lahir memiliki potensi dan peran yang lebih baik dibanding yang lain, kita penting mengingat peristiwa seorang sahabat yang juga tampak terlihat sangat berani di medan tempur, lain gugur. Tapi cacat niat yang ada dalam diri sahabat itu adalah ia ingin menjadi pembicaraan orang banyak. Hingga Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang memohon mati syahid dengan tulus maka Allah SWT akan memberikannya meskipun ia mati syahid itu tidak diperolehnya dengan jalan peperangan.” Dalam riwayat Al Hakim, disebutkan “Barang siapa yang memohon untuk mati di jalan Allah secara tulus maka Allah akan berikan padanya kedudukan para syuhada, meskipun ia mati diatas kasurnya.

                Saudaraku,
                Keikhlasan adalah urusan Allah SWT yang Maha Tahu. Tidak ada yang bisa melucuti kekotoran dalam niat kecuali dengan merenung dan mengevalusi diri kita sendiri, mamantau dan mengawasinya, bercermin pada diri serta bertanya, ”Sejauh manakah kesiapan kita untuk mati syahid?”

                Saudaraku,
                Akhiri perbincangan ini dengan kisah seorang sahabat yang benar-benar ingin mati syahid di perang Khaibar. Namanya Amir bin Al Akwa’ radhiallahu anhu. Tapi ia melakukan kesalahan menebas pedangnya hingga mengenai kakinya sendiri. Sebagian sahabat mengatakan, “Ia telah menghapus amalnya sendiri.” Mereka mengira Amir bin Al Akwa’ radhiallahu anhu melakukan bunuh diri. Saudaranya, yang bernama Salmah bin Al Akwa’ radhiallahu anhu mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya, bagaimana kedudukan saudaranya itu, apakah mati syahid atau mati terhina? Rasulullah SAW menjawab, “Ia bahkan mendapatkan dua pahala (sambil menunjukan dua jari tangannya). Ia mendapat pahala dari jihad yang dilakukannya. Dan kedua, sedikit dari orang arab yang bisa melakukan sebagaimana dirinya.” Dari sanalah kemudian muncul ungkapan dari para ulama, “Orang yang berjihad adalah orang yang melewati kesulitan untuk perjuangan agama Allah.”

                Karenanya,
                Mati syahid bukan hanya milik Muslim yang berada di medan perang dengan resiko terbunuh. Mati syahid bisa menjadi bagian permohonan siapapun, karena siapapun yang meminta dengan sungguh-sungguh untuk bisa mendapatkannya, maka ia akan mendapatkannya, meski mati di atas tempat tidur. Itulah yang disabdakan Rasulullah SAW.
                Menginginkan mati syahid, bukan karena kematiannya itu sendiri, melainkan karena pahala yang diberikan Allah SWT. Jika kita tulus dan jujur dalam meminta mati syahid karena pahala luar biasa dari Allah bagi para syuhada. Dengan izin Allah SWT. Di sini, ditempat kita ini, kita bisa menjemput mati syahid. Tentu dengan tangga cita-cita syahid itu.
                Semoga Allah SWT mengkaruniakan kita mati syahid. Allahummar zuqnaa syahaadah.. Allahumma amitnaa alaa syahaadatii fi sabiilik…

Tidak ada komentar: