RINGKASAN
BUKU ”MENITI JALAN MENUJU MATI SYAHID (2)” KARYA M. LILI NUR AULIA
Dikutib dari Majalah Tarbawi (edisi 207
Th.11)
Saudaraku,
Tidak ada cita-cita tinggi bisa
tercapai tanpa kesungguhan dan keseriusan. Keseriusan dan kesungguhan adalah tangga
ketiga dari persiapan meniti jalan menuju mati syahid. Berusaha untuk tidak
meyia-nyiakan waktu dan tenaga yang kita miliki, untuk diberikan di jalan para
syuhada. Berusaha agar semakin banyak parit-parit jihad yang kita ada di
dalamnya untuk menyongsong kemuliaan. Tidak dibiarkan pertamabahan usia, tanpa
menambah bobot amal dan ketaatan kepada Allah SWT.
Saat menjelaskan perkataan Ibnu
Umar, “Jika tiba waktu sore jangan menunggu waktu pagi, dan bila tiba waktu
pagi jangan menunggu waktu sore,” Ibnu Hajar mengatakan, “Kerjakan segera apa
yang bisa memberi manfaat padamu setelah kematianmu. Segera gunakan hari-hari
sehatmu dengan amal shalih, sebab penyakit itu akan menghalangi seseorang dari
beramal.” Selanjutnya, ia mengatakan, “Aku khawatir bila kondisi itu tidak
diperhatiakn, seseroang akan berakhir hidupnya di akhirat tanpa bekal yang
cukup.”
Dahulu, di zaman Rasulullah SAW,
ada dua orang yang bersama-sama masuk Islam. Satu dari keduanya lebih serius
dan bersungguh-sungguh menjalani keislamannya, disbanding satu orang lainnya.
Salah seorangnya gugur sebagai salah satu syuhada. Satu tahun berikutnya, satu
rekannya, juga meniggal sebagai syahid. Thalhah bin Ubaidillah melihat bahwa
pemuda yang syahid belakangan itu lebih dahulu masuk surga ketimbang temannya
yang juga gugur sebagai syahid. Rasulullah SAW mengatakan, “Apa yang kalian
kagumi dari mereka?” Mereka mengatakan, “Ya Rasulullah, orang ini (yang
meninggal kedua) lebih serius dan bersungguh-sungguh, lalu dia mati syahid,
karen itu dialah yang lebih dahulu masuk surga.” Rasulullah SAW bersabda,
“Bukankah dia hidup lebih lama satu tahun dibandingkan temannya itu?” Mereka
menjawab, “Ya.” Rasul lalu mengatakan, “Berarti ia telah melewati Ramadha dan
ia melakukan puasa, ia telah shalat ini dan itu, juga melakukan sujud dalam
satu tahun.” Para sahabat mengiyakan. Rasulullah SAW melanjutkan, “Antara
keduanya, ada jarak seperti langit dan bumi.”
Saudaraku,
Orang yang bersiap meraih mati
syahid, sudah siap menaung kesulitan yang akan dialami. Ia pesiapkan diri untuk
sabar dan tidak mundur dari memperjuangkan agama Allah SWT, meski
konsekwensinya ia harus mati. Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari, bawha Nafi’
pernah ditanya, “Untuk apa para sahabat berbai’at (sumpah setia) dengan
Rasulullah SAW? Apakah untuk mati?” Nafi’ mengatakan, “Bukan. Tapi mereka
berbai’at untuk bersabar.” Dalam hadits shahih Bukhari ada pula hadits dari
Shalmah yang menetapkan bai’at untuk mati. Ibnu hajar kemudian mengaitkan
antara dua riwayat hadits ini dengan ungkapan indah. “Jangan dibenturkan antara
perkataan mereka berbai’at untuk mati dan bersabar untuk tidak lari dari medan
perang. Karena maksud dari pembai’atan itu adalah : Mereka tidak lari meskipun
mati. Bukan mereka harus mati. Itulah yang dimaksud dalam perkataan Nafi’ bahwa
para sahabat berbai’at untuk bersabar, atau tetap teguh, tidak balik berlari,
dengan resiko kematian ataupun tidak.”
Saudaraku,
Marilah kembali menjaga niat
yang tulus dan bersih dalam meniti jalan ini. Tak ada di antara kita yang lebih
baik dari yang lain. Jika ada yang
secara lahir memiliki potensi dan peran yang lebih baik dibanding yang lain,
kita penting mengingat peristiwa seorang sahabat yang juga tampak terlihat
sangat berani di medan tempur, lain gugur. Tapi cacat niat yang ada dalam diri
sahabat itu adalah ia ingin menjadi pembicaraan orang banyak. Hingga Rasulullah
SAW bersabda, “Barang siapa yang memohon mati syahid dengan tulus maka Allah
SWT akan memberikannya meskipun ia mati syahid itu tidak diperolehnya dengan
jalan peperangan.” Dalam riwayat Al Hakim, disebutkan “Barang siapa yang
memohon untuk mati di jalan Allah secara tulus maka Allah akan berikan padanya
kedudukan para syuhada, meskipun ia mati diatas kasurnya.
Saudaraku,
Keikhlasan adalah urusan Allah
SWT yang Maha Tahu. Tidak ada yang bisa melucuti kekotoran dalam niat kecuali
dengan merenung dan mengevalusi diri kita sendiri, mamantau dan mengawasinya,
bercermin pada diri serta bertanya, ”Sejauh manakah kesiapan kita untuk mati
syahid?”
Saudaraku,
Akhiri perbincangan ini dengan
kisah seorang sahabat yang benar-benar ingin mati syahid di perang Khaibar.
Namanya Amir bin Al Akwa’ radhiallahu
anhu. Tapi ia melakukan kesalahan menebas pedangnya hingga mengenai kakinya
sendiri. Sebagian sahabat mengatakan, “Ia telah menghapus amalnya sendiri.”
Mereka mengira Amir bin Al Akwa’ radhiallahu
anhu melakukan bunuh diri. Saudaranya, yang bernama Salmah bin Al Akwa’ radhiallahu anhu mendatangi Rasulullah
SAW dan bertanya, bagaimana kedudukan saudaranya itu, apakah mati syahid atau
mati terhina? Rasulullah SAW menjawab, “Ia bahkan mendapatkan dua pahala
(sambil menunjukan dua jari tangannya). Ia mendapat pahala dari jihad yang
dilakukannya. Dan kedua, sedikit dari orang arab yang bisa melakukan
sebagaimana dirinya.” Dari sanalah kemudian muncul ungkapan dari para ulama, “Orang
yang berjihad adalah orang yang melewati kesulitan untuk perjuangan agama
Allah.”
Karenanya,
Mati syahid bukan hanya milik
Muslim yang berada di medan perang dengan resiko terbunuh. Mati syahid bisa
menjadi bagian permohonan siapapun, karena siapapun yang meminta dengan sungguh-sungguh
untuk bisa mendapatkannya, maka ia akan mendapatkannya, meski mati di atas
tempat tidur. Itulah yang disabdakan Rasulullah SAW.
Menginginkan mati syahid, bukan
karena kematiannya itu sendiri, melainkan karena pahala yang diberikan Allah
SWT. Jika kita tulus dan jujur dalam meminta mati syahid karena pahala luar
biasa dari Allah bagi para syuhada. Dengan izin Allah SWT. Di sini, ditempat
kita ini, kita bisa menjemput mati syahid. Tentu dengan tangga cita-cita syahid
itu.
Semoga Allah SWT mengkaruniakan kita
mati syahid. Allahummar zuqnaa syahaadah..
Allahumma amitnaa alaa syahaadatii fi sabiilik…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar