Kamis, 16 Juli 2020

“DIPUJI ATAU DICACI SAMA SAJA” KARYA M. LILI NUR AULIA

Dikutib dari Majalah Tarbawi (edisi 291 Th.14)

Banyak cara syaitan untuk mengelabui orang-orang shalih agar berhenti melakukan ketaatan. Banyak jalan yang digunakan syaitan, baik syaitan manusia maupun syaitan jin, untuk menghalangi dan mejauhkan orang beriman dari tetap di atas jalan kebenaran. Terkadang, cara dan jalan itu disadari oleh para shalihin dan orang beriman, tapi tidak jarang, cara dan jalan syaitan itu tak disadari karena halus dan licinnya.

Saudaraku,
Salah satu cara dan jalan yang digunakan syaitan kepada kita adalah melalui pujian. Pujian manusia atas kebaikan yang kita lakukan, zahirnya adalah baik. Barangkali sebagian orang yang menganggap pujian itulah yang justru lebih memacu kita untuk memperbanyak keshalihan dan ketaatan. Namun sebenarnya, itulah cara jalan syaitan yang digunakan justru agar kita mengurangi atau berhenti dari kebaikan.
Ketika kita dipuji, hanya ada dua kondisi yang ada dalam diri seseorang. Pertama, bila pujian itu benar dan sesuai dengan kondisinya. Atau kedua, pujian itu justru tidak ada pada dirinya, bahkan justru di sanalah letak kekurangan terbesar.

Saudaraku,
Mari kita kaji masalah pujian ini lebihjauh agar kita waspada dengan pujian. Sebab pada dua kondisi tadi, kita tetap dalam keadaan ancaman bahaya dari tipudaya syaitan.
Bila kita merasakan kondisi pertama saat dipuji. Bila hati kita merasakan bahwa pujian yang kita terima sesuai dengan amal yang kita lakukan, apa yang harus kita lakukan? Para shalihin mengajarkan kita dalam kondisi ini, yang pantas kita tumbuhkan dalam diri adalah rasa rendah dan malu di hadapan Allah SWT. Sebab apa yang menjadi fokus pujian orang terhadap diri kita, hanya karena karunia Allah SWT. Taka ada daya dan kemampuan apapun yang kita punya, kecuali semuanya karena kehendak, bantuan dukungan, karunia Allah SWT. Jadi penting kita hidupkan dalam hati dan fikiran adalah, justru perasaan fakiq di hadapan Allah SWT atas pujian yang diterima.
Analoginya, kita ini seperti orang miskin yang tak punya apa-apa, lalu diberi sesuatu yang luar biasa dari orang berharta. Orang berharta tersebut meminta kita menjadi wakilnya untuk mengundang dan membagikan apa yang dimilikinya untuk orang-orang miskin yang membutuhkan. Lalu, mereka memuji kita karena mengira bahwa kita lah yang berjasa memberi bantuan kepada mereka. Dalam kondisi seperti ini, pasti orang miskin pertama yang dibantu oleh orang kaya itu akan merasa malu dan merasa tidak layak menerima pujian orang-orang.
Inilah sikap dan perilaku yang penting kita bangun dalam hati. Bahwa bagaimana pun, yang lebih layak disyukuri dan dipuji adalah Allah SWT yang telah memberi sehingga kemudian ada sebagian orang yang memuji. Salah dalam bersikap terhadap pujian di sini, menyebabkan kita bangga, lupa, ghurur, dan perlahan-lahan justru mengurangi kehsalihan dan ketaatan yang semula dilakukan.

Saudaraku,
Adapun bila kondisi kedua yang terjadi, bila pujian manusia tak sesuai dengan apa yang kita lakukan. Apa yang harus kita lakukan? Ancaman bahaya dalam kondisi, sebenarnya tak sehalus kondisi pertama. Sebab jika kita sadar bahwa justru kita tidak memiliki apa yang mereka puji, atau bahkan berlawanan dari apa yang mereka puji, sangat mungkin kita merasa baik, tidak salah, berada dalam kebenaran, ada dalam ketaatan. Meskipun faktanya tidak demikian.
Seharusnya, dalam kondisi itu, rasa malu yang tumbuh lebih dalam lagi di hadapan Allah SWT. Sebab hanya Allah SWT saja yang mengetahui apa kekurangan diri yang dipuji sebagai kelebihan oleh orang lain. Hanya Allah SWT saja yang mengetahui sejauh mana kondisi kita yang justru berlawanan dengan pujian orang. Hanya Allah SWT saja yang mengetahui bahwa kita justru sangat kurang dari sesuatu yang menjadi pujian orang. Maka, kita pun malu kepada Allah SWT. Tunduk dan merasa hina di hadapan Allah karena pujian itu.

Saudaraku,
Tak ada diantara kita yang layak dipuji. Sebab pada dasarnya, Allah SWT Maha Tahu tentang kita dan Allah SWT Menutup kekurangan dan aib yang dimiliki sehingga kemudian yang muncul adalah sesuatu yang baik. Jika dipuji maka pujian itu bukan hak kita. Dan bila kita tak dipuji, tak mengapa sebab memang pujian itu tidak pantas kita terima.

Saudaraku,
Pujian tak mungkin diarahkan pada sesuatu yang tidak terlihat. Padahal sesuatu yang terlihat belum tentu menjadi tanda terhadap kondisi yang tak terlihat. Bahkan kebanyakan orang menampilkan sesuatu yang lahir yang berbeda dengan kondisi batinnya. Artinya, pujian hanya didasari dugaan-dugaan saja terhadap kebaikan yang terlihat. Hanya didasari karena pujian itu tidak melihat hal-hal justru menjadi kekurangan tapi tak terlihat. Karenanya, tak perlu mengikuti arah pujian atas dugaan orang lain yang menduga kebaikan ada pada diri. Itulah yang dipesankan oleh Ibnu Atha’illah rahimahullah, “Orang yang paling bodoh adalah yang meninggalkan keyakinan dirinya (bahwa ia tak layak dipuji), lalu mengikuti dugaan orang lain (yang menganggap dirinya baik dan layak dipuji).”

Saudaraku,
Sebagaimana orang yang memuji yang berdasarkan dugaan-dugaan. Yang bisa menjadi benar atau salah. Begitu juga caci maki orang yang memburuk-burukkan dan menghina kita. Yang bisa menjadi benar atau juga salah.  Menjelekkan, menghina, mencaci, menganggap kecil, adalah sikap yang dilakukan seseoran karena memang dia tidak mengetahui hakikatnya,yang mungkin tertutup dari diri kita sehingga mereka tidak tahu.
Itulah sebabnya, para shalihin pernah mengungkapkan kata-kata indah bila mereka dipuji atau dicaci. Mereka mengatakan kepada orang yang memuji atau mencacinya. “Engkau tahu sebagian, tapi ada juga yang tidak engkau ketahui.”

Saudaraku,
Maka, dipuji atau dicacim, sama saja. . .

Tidak ada komentar: