“DIPUJI
ATAU DICACI SAMA SAJA” KARYA M. LILI NUR AULIA
Dikutib dari Majalah Tarbawi (edisi 291
Th.14)
Banyak
cara syaitan untuk mengelabui orang-orang shalih agar berhenti melakukan
ketaatan. Banyak jalan yang digunakan syaitan, baik syaitan manusia maupun
syaitan jin, untuk menghalangi dan mejauhkan orang beriman dari tetap di atas
jalan kebenaran. Terkadang, cara dan jalan itu disadari oleh para shalihin dan
orang beriman, tapi tidak jarang, cara dan jalan syaitan itu tak disadari
karena halus dan licinnya.
Saudaraku,
Salah
satu cara dan jalan yang digunakan syaitan kepada kita adalah melalui pujian. Pujian
manusia atas kebaikan yang kita lakukan, zahirnya adalah baik. Barangkali
sebagian orang yang menganggap pujian itulah yang justru lebih memacu kita
untuk memperbanyak keshalihan dan ketaatan. Namun sebenarnya, itulah cara jalan
syaitan yang digunakan justru agar kita mengurangi atau berhenti dari kebaikan.
Ketika
kita dipuji, hanya ada dua kondisi yang ada dalam diri seseorang. Pertama, bila
pujian itu benar dan sesuai dengan kondisinya. Atau kedua, pujian itu justru
tidak ada pada dirinya, bahkan justru di sanalah letak kekurangan terbesar.
Saudaraku,
Mari
kita kaji masalah pujian ini lebihjauh agar kita waspada dengan pujian. Sebab pada
dua kondisi tadi, kita tetap dalam keadaan ancaman bahaya dari tipudaya
syaitan.
Bila
kita merasakan kondisi pertama saat dipuji. Bila hati kita merasakan bahwa
pujian yang kita terima sesuai dengan amal yang kita lakukan, apa yang harus
kita lakukan? Para shalihin mengajarkan kita dalam kondisi ini, yang pantas
kita tumbuhkan dalam diri adalah rasa rendah dan malu di hadapan Allah SWT.
Sebab apa yang menjadi fokus pujian orang terhadap diri kita, hanya karena
karunia Allah SWT. Taka ada daya dan kemampuan apapun yang kita punya, kecuali
semuanya karena kehendak, bantuan dukungan, karunia Allah SWT. Jadi penting kita
hidupkan dalam hati dan fikiran adalah, justru perasaan fakiq di hadapan Allah
SWT atas pujian yang diterima.
Analoginya,
kita ini seperti orang miskin yang tak punya apa-apa, lalu diberi sesuatu yang
luar biasa dari orang berharta. Orang berharta tersebut meminta kita menjadi
wakilnya untuk mengundang dan membagikan apa yang dimilikinya untuk orang-orang
miskin yang membutuhkan. Lalu, mereka memuji kita karena mengira bahwa kita lah
yang berjasa memberi bantuan kepada mereka. Dalam kondisi seperti ini, pasti
orang miskin pertama yang dibantu oleh orang kaya itu akan merasa malu dan
merasa tidak layak menerima pujian orang-orang.
Inilah
sikap dan perilaku yang penting kita bangun dalam hati. Bahwa bagaimana pun,
yang lebih layak disyukuri dan dipuji adalah Allah SWT yang telah memberi
sehingga kemudian ada sebagian orang yang memuji. Salah dalam bersikap terhadap
pujian di sini, menyebabkan kita bangga, lupa, ghurur, dan perlahan-lahan justru mengurangi kehsalihan dan
ketaatan yang semula dilakukan.
Saudaraku,
Adapun
bila kondisi kedua yang terjadi, bila pujian manusia tak sesuai dengan apa yang
kita lakukan. Apa yang harus kita lakukan? Ancaman bahaya dalam kondisi,
sebenarnya tak sehalus kondisi pertama. Sebab jika kita sadar bahwa justru kita
tidak memiliki apa yang mereka puji, atau bahkan berlawanan dari apa yang
mereka puji, sangat mungkin kita merasa baik, tidak salah, berada dalam
kebenaran, ada dalam ketaatan. Meskipun faktanya tidak demikian.
Seharusnya,
dalam kondisi itu, rasa malu yang tumbuh lebih dalam lagi di hadapan Allah SWT.
Sebab hanya Allah SWT saja yang mengetahui apa kekurangan diri yang dipuji
sebagai kelebihan oleh orang lain. Hanya Allah SWT saja yang mengetahui sejauh
mana kondisi kita yang justru berlawanan dengan pujian orang. Hanya Allah SWT
saja yang mengetahui bahwa kita justru sangat kurang dari sesuatu yang menjadi
pujian orang. Maka, kita pun malu kepada Allah SWT. Tunduk dan merasa hina di
hadapan Allah karena pujian itu.
Saudaraku,
Tak
ada diantara kita yang layak dipuji. Sebab pada dasarnya, Allah SWT Maha Tahu
tentang kita dan Allah SWT Menutup kekurangan dan aib yang dimiliki sehingga kemudian
yang muncul adalah sesuatu yang baik. Jika dipuji maka pujian itu bukan hak
kita. Dan bila kita tak dipuji, tak mengapa sebab memang pujian itu tidak
pantas kita terima.
Saudaraku,
Pujian
tak mungkin diarahkan pada sesuatu yang tidak terlihat. Padahal sesuatu yang
terlihat belum tentu menjadi tanda terhadap kondisi yang tak terlihat. Bahkan kebanyakan
orang menampilkan sesuatu yang lahir yang berbeda dengan kondisi batinnya. Artinya,
pujian hanya didasari dugaan-dugaan saja terhadap kebaikan yang terlihat. Hanya
didasari karena pujian itu tidak melihat hal-hal justru menjadi kekurangan tapi
tak terlihat. Karenanya, tak perlu mengikuti arah pujian atas dugaan orang lain
yang menduga kebaikan ada pada diri. Itulah yang dipesankan oleh Ibnu Atha’illah rahimahullah, “Orang yang
paling bodoh adalah yang meninggalkan keyakinan dirinya (bahwa ia tak layak
dipuji), lalu mengikuti dugaan orang lain (yang menganggap dirinya baik dan
layak dipuji).”
Saudaraku,
Sebagaimana
orang yang memuji yang berdasarkan dugaan-dugaan. Yang bisa menjadi benar atau
salah. Begitu juga caci maki orang yang memburuk-burukkan dan menghina kita. Yang
bisa menjadi benar atau juga salah. Menjelekkan,
menghina, mencaci, menganggap kecil, adalah sikap yang dilakukan seseoran
karena memang dia tidak mengetahui hakikatnya,yang mungkin tertutup dari diri
kita sehingga mereka tidak tahu.
Itulah
sebabnya, para shalihin pernah mengungkapkan kata-kata indah bila mereka dipuji
atau dicaci. Mereka mengatakan kepada orang yang memuji atau mencacinya. “Engkau
tahu sebagian, tapi ada juga yang tidak engkau ketahui.”
Saudaraku,
Maka,
dipuji atau dicacim, sama saja. . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar