Jumat, 17 Juli 2020

“RINTIHAN “TERAKHIR” MASJID AL AQSHA” KARYA M. LILI NUR AULIA

Dikutib dari Majalah Tarbawi (edisi 221 Th.11)

“Mungkin ini seruan kami yang terakhir, sebelum runtuhnya Masjid Al Aqsha..” Dengan suara bergetar menahan gemuruh dalam jiwanya, kalimat ini disampaikan Hakim Agung Palestina, Taeser At Tamimi dalam konferensi pers di Ramallah, Tepi Barat. Kata-kata itu sebenarnya begitu mampu membentak jiwa semua Muslim. Lalu iapun melanjutkan, “Umat Islam harus segera bangun dari tidurnya…”

Kata-kata di atas bukan berlebihan. Masjid Al Aqsha yang menjadi kiblat pertama umat Islam, sudah lebih dari separuh abad dikuasai oleh Zionis Israel. Syaikh Raid Shalah, took utama Harakah Islamiyah Palestina 1948, bahkan menyuarakan pandangannya yang lebih memprihatinkan. Menurutnya, hanya dalam waktu enam bulan pertama di tahun 2010 ini, akan terjadi peristiwa besar yang mengancam keruntuhan Masjid Al Aqsha. Kepada Quds Pers ia menyatakan, “Sudah banyak indikator bahwa paruh pertama tahun 2010 ini akan terjadi peristiwa besar dalam masalah Masjid Al Aqsha. Akan terjadi sejumlah peristiwa berbahaya sekali terkait Al Aqsha.”
Syaikh Raid Shalah yang baru saja dijatuhi hukuman penjara 9 bulan oleh pengadilan Israel mengatakan takkan pernah surut mengingatkan umat Islam untuk segera bertindak menyelamatkan Al Aqsha. Sebab, menurutnya lorong-lorong bawah tanah Masjid yang terus digali oleh Zionis Israel sudah sangat banyak dan saling berhubungan. “Zionis Israel kini tengah berusaha menggabungkan lorong-lorong itu satu sama lainnya, hingga menjadi satu-kesatuan yang seluruhnya berada di bawah Masjid Al Aqsha dan Al Quds lama serta  kampong Silwan” tandas Shalah yang mengaku telah mensurvei ke sejumlah lokasi yang menegaskan adanya bahaya longsoran tanah kian mengancam berbagai sisi Masjid Al Aqsha.
Ketua Uskup Kristen Ortodoks di Jerussalem, Athalla Hana, yang hadir dalam konferensi pers bersama Taeser turut menyatakan keprihatinannya atas ulah Israel di wilayah Masjid Al Aqsha, yang kebetulan bersebelahan dengan Gereja Al Qiyamah dan memiliki nilai sejarah tinggi bagi kaum Nasrasi. Ia mengatakan, “Penggalian bawah tanah yang terus menerus dilakukan penjajah Zionis Israel mempunyai target memalsukan sejarah bangsa Arab baik Muslim maupun non Muslim. Mereka  menggali lorong di bawah tanah untuk merubuhkan banguan yang ada di atas tanah.”
Menurut Hana, pihaknya benar-benar telah melihat langsung bagaimana hamper semua tempat yang menjadi pilar utama bangunan suci milik Islam dan Nasrani di arena Masjid Al Aqsha, sudah rawan roboh. “Kerapuhan dan kerawanan ini merupakan peringatan yang sangat berbahaya, karena benar-benar mengancam robohnya Masjid Al Aqsha dan Gereja  Al Qiyamah,” jelas Hana.
Beberapa waktu lalu, (19/1) temukan pengeroposan tanah hingga terjadinya lubang akibat longsoran tanah di Lembah  Helwah, jalan Silwan Jerussalem. Berbagai panggilan Israel di lokasi itulah penyebabnya. Dan jalan Silwan hanya  berjarak sekitar 300 meter dari Masjid Al Aqsha. Saksi mata mengatakan, longsoran itu menyebabkan terbentuknya lubang yang panjangnya empat meter dan kedalaman tiga meter serta lebar satu meter. Jawad Siyam dari Komite Pembelaan Distrik dan Lembah Helwah menyebutkan bahwa longsoran itu terjadi tepat di atas terowongan yang tengah digali oleh Israel.
Al Aqsha memang sudah lama merintih. Namun rintihan itu tampaknya masih belum bisa menggugah penguasa Negara Islam untuk mengobati, merawat dan membebaskannya dari cengkraman Zionis. Menurut Hakim Agung Taeser, kini kondisi Al Aqsha benar-benar sangat berbahaya. Ia pun mengatakan berulangkali pihaknya mengimbau, berteriak, bahwa akibat penggalian bawah tanah yang dilakukan Israel dengan dalih penelitian arkeologi atau perluasan infrastruktur kota itu, dipastikan memberi ambruknya Masjid Al Aqsha. “Kejadian di Salwan  terakhir itu menunjukkan bahwa kekhawatiran itu kini benar-benar telah terjadi. Dan Masjid Al Aqsha mungkin tidak lama lagi akan roboh…” urai Taeser.
Ini bukan pertama kalinya para tokoh agama Islam dan Kristen menyuarakan ancaman kehancuran Masjid Al Aqsha.  Tapi Taeser Tamimi kali ini mengatakan, ancaman itu sudah benar-benar terjadi sebagainya dan dikhawatirkan ancaman itu akan menimpa Masjid Al Aqsha. “Teriakan-teriakan yang kami dilakukan selama ini seperti teriakan di sebuuah lembah yang dalam, hingga taka da yang mau mendengar. Tapi kini, masjid Al Aqsha benar-benar di ambang keruntuhan..” ujar Taeser.
Israel memulai peningkatan eskalasi penggalian bawah tanah pada bulan Februari 2007. Dimulai dari sisi Pintu masuk Al Aqsha yang bernama Al Maghariba, yang langsung mengarah pada area Al Haram Al Qudsi, tempat berdirinya masjid Al Aqsha. Zionis Israel berdalih, mereka sedang melakukan perluasan jalan dan membangun jembatan ke Masjid Al Aqshaa sekaligus Tembok Ratapan yang disucikan oleh orang Yahudi. Tapi, kenyataannya tidak begitu. Para saksi mata dan lembaga perlindungan Masjid Al Aqsha justru menemukan lorong bawah tanah yang jumlahnya di atas 60 lorong dan juga jembatan yang bisa membuat pilar masjid semakin rapuh dan akan runtuh.

Pahala Luar Biasa
                Al Aqsha memiliki nilai istimewa begi umat Islam. Pahala shalat di dalamnya, menurut hadits yang paling shalih lebih utama dari pada 250 shalat dibandingkan masjid lainnya. Abu Dzar radhiyallahu’anhu bercerita, “Kami berbincang-bincang di sisi Rasulullah SAW tentang mana yang lebih utama dari dua masjid; Masjid Nabawi dan Masjid Baitul Maqdis, lalu Rasulullah, lalu Rasulullah bersabda, “Sekali Shalat di masjidku ini lebih baik dari pada empat kali shalat di sana, dan dia sebaik-baik mushalla…” (HR. Thahawi, Hakim, Baihaqi dan Thabrani. Lihat SilsilahShahihah: Syarah hadits 2902, 6/401; Al-Tsamr Al-Mustathab: 1/548-549)
                Selain itu, ada pula hadits Maimunah radhiyallahu ‘anha yang mengatakan bahwa shalat di Masjid Al Aqsha sama dengan 1000 shalat. Kemudian hadits Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu meneybutkan sama dengan 500 shalat. Ada yang mencoba menganalisa dengan mengatakan: Pertama-tama Allah menjadikan keutamaan shalat di Masjid Al Aqsha setara dengan 250 shalat, kemudian dinaikkan jadi 500 shalat, kemudian menjadi 1000 shalat sebagai karunia dari Allah SWT.
                Apakah kita bisa menerima pahala luar biasa itu?

Tidak ada komentar: